Koma.id — Varian baru virus influenza yang dikenal sebagai super flu dilaporkan telah terdeteksi di Indonesia. Temuan ini memicu peningkatan kewaspadaan di kalangan tenaga kesehatan, terutama karena virus tersebut dinilai berisiko tinggi menyerang kelompok anak-anak.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, hingga awal Januari 2026 tercatat 62 kasus infeksi virus influenza A (H3N2) subclade K di Tanah Air. Puluhan kasus tersebut tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
Kemenkes menilai pola persebaran ini menunjukkan potensi penularan yang cepat, khususnya di wilayah dengan mobilitas penduduk tinggi dan aktivitas belajar tatap muka yang intensif. Karena itu, langkah pencegahan sejak dini dinilai krusial untuk menekan perluasan kasus.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Nastiti Kaswandani, SpA, SubspRespi(K), mengatakan anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan karena sistem imun yang belum sepenuhnya matang, terutama pada balita dan anak usia sekolah.
“Anak-anak lebih mudah tertular influenza, apalagi bila berada di lingkungan tertutup seperti sekolah atau tempat penitipan anak,” ujar Nastiti.
Ia menjelaskan, meski disebut sebagai super flu, varian influenza A (H3N2) subclade K pada dasarnya memiliki mekanisme penularan yang sama dengan influenza pada umumnya, yakni melalui droplet pernapasan. Namun, mutasi virus membuat gejala bisa muncul lebih berat pada sebagian pasien.
Gejala yang perlu diwaspadai meliputi demam tinggi, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, lemas, hingga sesak napas. Pada anak, infeksi juga dapat disertai muntah atau diare, terutama jika daya tahan tubuh menurun.
Nastiti menekankan, kunci utama pencegahan super flu berada pada konsistensi penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Orang tua diminta aktif melindungi anak dengan langkah-langkah sederhana namun efektif.
“Biasakan anak mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker saat sakit, menjaga etika batuk dan bersin, serta memastikan asupan gizi dan istirahat yang cukup,” jelasnya.
Selain itu, orang tua juga diminta tidak memaksakan anak beraktivitas saat mengalami gejala flu. “Jika anak sakit, sebaiknya tidak masuk sekolah untuk mencegah penularan ke teman sebaya,” tambahnya.
Kemenkes juga mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala influenza berat atau tidak membaik dalam beberapa hari. Deteksi dan penanganan dini dinilai penting untuk mencegah komplikasi, terutama pada anak-anak, lansia, dan individu dengan penyakit penyerta.
Pemerintah memastikan terus melakukan pemantauan dan penguatan sistem surveilans penyakit menular, sembari mengimbau masyarakat tetap tenang namun waspada menghadapi kemunculan varian super flu tersebut.












