Koma.id – Wabah hantavirus kembali menjadi perhatian dunia setelah tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi Andes Virus, salah satu varian hantavirus yang banyak ditemukan di kawasan Amerika Selatan.
Andes Virus diketahui menjadi penyebab Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), penyakit infeksi yang menyerang paru-paru dan memiliki tingkat kematian tinggi hingga mencapai 60 persen.
Menyusul kasus tersebut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan potensi munculnya lebih banyak kasus hantavirus di berbagai negara. Meski demikian, WHO menilai penyebaran penyakit masih dapat dikendalikan apabila langkah kesehatan masyarakat dilakukan secara cepat dan ketat.
Selain HPS, hantavirus juga memiliki bentuk klinis lain yaitu Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), penyakit yang menyerang ginjal dengan tingkat fatalitas lebih rendah dibanding HPS.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat terdapat 23 kasus hantavirus sejak tahun 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026. Dari total kasus tersebut, sebanyak 20 pasien dinyatakan sembuh, sementara tiga lainnya meninggal dunia.
Mayoritas kasus yang ditemukan di Indonesia merupakan tipe HFRS yang disebabkan varian Seoul Virus.
Kasus hantavirus di Indonesia tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Sulawesi Utara, dan beberapa daerah lainnya.
Kementerian Kesehatan menjelaskan penularan hantavirus umumnya berasal dari kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi. Virus dapat menyebar melalui urine, kotoran, air liur, maupun cairan tubuh hewan pengerat tersebut.
Paparan debu yang terkontaminasi kotoran tikus juga disebut dapat menjadi media penularan kepada manusia, terutama di lingkungan dengan sanitasi buruk atau populasi tikus yang tinggi.
Gejala hantavirus bervariasi, mulai dari demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, hingga gangguan pernapasan berat pada kasus HPS. Sementara pada HFRS, pasien dapat mengalami gangguan ginjal, perdarahan, hingga penurunan tekanan darah.
Kemenkes mengimbau masyarakat meningkatkan kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan tikus maupun kotorannya untuk menekan risiko penularan.
Pemerintah juga meminta fasilitas kesehatan meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala penyakit yang mengarah pada infeksi hantavirus, terutama di daerah yang pernah melaporkan kasus.













