Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Kesehatan

Kemenkes Tegaskan Susu Formula dalam Program MBG Sangat Berisiko, Utamakan ASI!

Views
×

Kemenkes Tegaskan Susu Formula dalam Program MBG Sangat Berisiko, Utamakan ASI!

Sebarkan artikel ini
Kemenkes Terima 1540 Laporan Bullying PPDS Termasuk RS Milik Universitas
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). (Foto/Istimewa)

Koma.id Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan risiko pemberian susu formula (sufor) secara berlebihan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 2026. Kemenkes menegaskan kebijakan pemenuhan gizi bayi dan anak tetap harus mengutamakan perlindungan terhadap pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif.

Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kemenkes, dr. Lovely Daisy, mengatakan pemberian susu formula tanpa pengawasan medis dapat berdampak terhadap kesehatan bayi maupun keberhasilan program ASI eksklusif nasional.

Silakan gulirkan ke bawah
Baca juga:
IDAI Desak BGN Ubah Kebijakan Susu Formula Gantikan ASI

“Pemberian susu formula berlebihan dapat mengurangi frekuensi menyusu bayi sehingga produksi ASI ibu ikut menurun,” kata Lovely dalam keterangannya, Jumat (22/5/2026).

Ia menjelaskan kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan risiko penyakit pada bayi serta memengaruhi ikatan emosional atau bonding antara ibu dan anak.

Menurut Lovely, ASI tetap menjadi sumber nutrisi utama dan terbaik bagi bayi, terutama selama enam bulan pertama kehidupan sebagaimana direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF.

Baca juga:
Kemenkes RI Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Hantavirus

Sorotan terhadap skema susu formula dalam MBG sebelumnya juga disampaikan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Organisasi profesi tersebut menilai distribusi susu formula secara massal berpotensi bertentangan dengan kebijakan perlindungan ASI nasional.

IDAI menegaskan pemberian susu formula seharusnya hanya dilakukan berdasarkan indikasi medis tertentu sesuai Undang-Undang Kesehatan, Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024, serta rekomendasi tenaga kesehatan.

Dalam surat terbukanya kepada Badan Gizi Nasional (BGN), IDAI mengingatkan distribusi formula tanpa pengawasan medis dapat menurunkan angka keberhasilan ASI eksklusif dan mengganggu upaya percepatan penurunan stunting.

Selain itu, IDAI menilai ketergantungan terhadap susu formula komersial juga dapat meningkatkan konsumsi pangan olahan dibanding pemanfaatan sumber protein lokal.

Karena itu, IDAI meminta pemerintah memprioritaskan makanan pendamping ASI (MPASI) berbasis pangan lokal berprotein hewani seperti telur, ikan, dan daging dalam pelaksanaan MBG.

Meski mengkritisi wacana susu formula dalam program tersebut, IDAI menegaskan tetap mendukung langkah pemerintah memperbaiki status gizi masyarakat dan menekan angka stunting menuju target Indonesia Emas 2045.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.