Koma.id – Rencana pemasangan eskalator di Candi Borobudur menuai kontroversi. Pemasangan eskalator di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah itu disebut untuk keperluan kunjungan Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Presiden Prabowo Subianto beberapa hari mendatang.
Berawal dari sebuah unggahan di media sosial X oleh akun @Jateng_Twit pada Minggu (25/5). Dalam unggahannya, akun tersebut membagikan sebuah video yang menunjukkan kondisi salah satu bagian Candi Borobudur yang tampak dipasangi alat tertentu.
Akun itu juga menulis, ”Presiden mau berkunjung ke Candi Borobudur, ujug2 candinya dipasang eskalator”. Unggahan tersebut mendapat banyak tanggapan dari warganet.
Kepala Kantor Komunikasi Presiden (Presidential Communication Office/PCO) Hasan Nasbi pun sampai angkat suara terkait polemik ini.
Ia memastikan fasilitas yang dimaksud adalah stair lift, bukan eskalator.
Stair lift tersebut dipasang untuk menyambut kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang dijadwalkan akan mengunjungi Borobudur pada akhir Mei 2025 bersama Presiden Prabowo Subianto.
“Pemerintah menyiapkan fasilitas untuk memudahkan kunjungan Presiden Prancis ke Borobudur,” ujar Hasan di Jakarta, Selasa (27/5).
Fasilitas pertama adalah ramp atau semacam jalan landai untuk sampai level 4. ”Pemerintah menyiapkan ramp. Jadi semacam jalan setapak yang tidak pakai tangga untuk sampai level 4,” kata Hasan.
Fasilitas kedua yang disiapkan adalah stairlift, yakni alat yang dipasang di sepanjang tangga untuk memudahkan mobilitas. Stairlift biasanya berupa kursi yang bisa bergerak naik dan turun mengikuti rel yang dipasang di sisi tangga. Menurut rencana, stairlift di Candi Borobudur akan digunakan da
Hasan menegaskan pemasangan stair lift tidak akan merusak struktur candi. Proyek ini dilakukan di bawah pengawasan Kementerian Kebudayaan dan pihak pengelola Borobudur.
“Tentunya pendekatan yang mengutamakan kelestarian situs bersejarah tersebut,” ungkap Hasan.
Hasan menjelaskan stair lift adalah alat bantu mekanis yang biasa dipasang di sisi tangga. Alat tersebut digunakan untuk membantu seseorang naik ke tingkat yang lebih tinggi, mirip seperti di rumah-rumah untuk lansia atau difabel.
Fasilitas ini dirancang untuk efisiensi waktu, mengingat Candi Borobudur memiliki 12 tingkat.
Selain itu, kondisi formal dalam kunjungan kenegaraan tidak memungkinkan tamu negara mendaki dengan nyaman tanpa berkeringat atau kelelahan.
“Misalnya dari lantai lima ke tujuh atau delapan bisa pakai stair lift, supaya waktunya lebih efisien dan tetap proper dalam agenda kenegaraan,” jelas Hasan.
Selain untuk tamu kenegaraan, fasilitas di Candi Borobudur itu juga bertujuan memperkuat aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, sejalan dengan prinsip inklusivitas dalam pariwisata.
Hasan juga mengklaim pemasangan fasilitas tersebut tidak akan merusak bangunan Candi Borobudur. Hal ini karena pemasangan alat tersebut tidak memakai paku dan bor, tetapi hanya didudukkan atau ditaruh saja. Pemasangan tersebut juga diawasi Kementerian Kebudayaan.
”Banyak yang kemudian menduga apakah ini merusak cagar budaya atau tidak. Teman-teman, itu semua dibangun dengan pengawasan dari Kementerian Kebudayaan dan tidak ada paku, tidak ada bor. Jadi hanya ditaruh. Didudukan, ditaruh saja,” ujarnya.
Ia pun menyebut, setelah kunjungan selesai, alat itu bisa dengan mudah dibongkar kembali. ”Jadi nanti ketika, misalnya, setelah selesai itu bisa dibongkar dengan mudah. Jadi untuk kunjungan itu lebih kepada kita mempersiapkan fasilitas yang memudahkan kunjungan Presiden Macron agar bisa menikmati keindahan dan kemegahan Borbudur secara keseluruhan,” ucapnya.












