KOMA.ID, JAKARTA – Imam Besar Front Persaudaraan Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab menyatakan bahwa pihaknya mendukung upaya total pembongkaran motif hingga seluruh aktor di balik penyiraman air keras kepada Andrie Yunus, wakil koordinator bidang eksternal KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan).
“Kita langsung mendorong pemerintah jangan coba-coba itu disembunyikan, itu harus dibongkar. Bahkan kita minta diusut sampai ke akar-akarnya,” kata Habib Rizieq dalam sebuah video yang dikutip, Minggu (19/4/2026).
Menurutnya, kasus teror dan serangan yang melibatkan aparatur negara harus diproses dengan tuntas, dan penuh dengan integritas. Terlebih, 4 (empat) orang yang disebut merupakan anggota intelijen dari BAIS TNI terlibat dalam misi penyerangan yang terjadi di kawasan Salemba, Senen, Jakarta Pusat itu.
“Supaya yang bertanggung jawab harus dihukum,” ujarnya.
Dengan demikian, pemilik nama Muhammad Rizieq bin Husein bin Shihab tersebut meminta kepada publik khususnya para Mahasiswa untuk tidak mempertanyakan sikap FPI dalam kasus Andrie Yunus, sebab jelas sikap organisasinya itu tetap berada pada agenda menegakkan kebaikan dan melawan segala bentuk kemungkaran.
“Kita menolak ya Ikhwan, segala macam bentuk kekerasan kepada para aktivis, kepada mahasiswa yang sedang menyuarakan suara keadilan. Jadi sekali lagi tidak usah khawatir, tidak usah ragu dan bimbang, sampai hari ini FPI seperti FPI yang dulu dalam soal menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, serta melawan kezaliman, dan menegakkan keadilan,” terang Habib Rizieq.
Hanya saja memang dalam aspek ruang geraknya, FPI sedang melakukan perubahan strategi dalam perjuangan. Apalagi berbagai pengalaman yang pernah dialami oleh FPI sejak tahun 1998 hingga 2020, organisasi yang ia komando tersebut pada akhirnya dibubarkan oleh rezim pemerintahan Presiden ke 7 Joko Widodo.
“Tapi memang ritme perjuangannya yang berubah, nah kenapa memperjuangkan ada perubahan, ada penyesuaian-penyesuaian, FPI harus hati-hati,” paparnya.
“Nah, jadi banyak itu sudah pengalaman, puncaknya waktu 411 212 dan seterusnya ya Ikhwan, itu juga menjadi catatan buat kita. Nah pengalaman-pengalaman ini tentunya wajib menjadi pelajaran buat FPI agar ke depan sedikit lebih berhati-hati,” sambung Habib Rizieq.













