Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Polhukam

Analisis Alto Luger: Pesan Tersirat Prabowo di Balik Penghormatan Prajurit Gugur di Lebanon

Views
×

Analisis Alto Luger: Pesan Tersirat Prabowo di Balik Penghormatan Prajurit Gugur di Lebanon

Sebarkan artikel ini
Alto Luger
Pengamat konflik dan keamanan, Alto Luger Labetubun.

KOMA.ID, JAKARTA – Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam upacara penghormatan terakhir bagi prajurit TNI yang gugur dalam misi perdamaian PBB di Lebanon pada 4 April 2026, dinilai bukan sekadar seremoni militer biasa. Pengamat konflik dan keamanan, Alto Luger Labetubun, melihat adanya pesan politik yang kuat di balik sikap sang Panglima Tertinggi.

“Sikap ini menunjukkan bahwa sebagai Panglima Tertinggi, Prabowo menghormati jasa mereka, dan menghargai pengorbanan mereka,” tulis Alto Luger dalam tulisannya di Facebook, Minggu (5/4/2026).

Silakan gulirkan ke bawah

Alto juga menyoroti paragraf penutup unggahan Presiden Prabowo di media sosial yang menekankan pentingnya menjaga perdamaian serta tidak memberi ruang bagi pihak-pihak yang berusaha memecah belah kerukunan bangsa.

Menurut Alto, pernyataan tersebut merupakan sinyal bahwa Prabowo sangat menyadari posisi Indonesia di tengah dinamika global. Meskipun Indonesia bukan merupakan pihak yang sedang berperang (parties to the conflict), dampak negatif dari ketegangan di Timur Tengah mulai merembes ke politik domestik.

“Pernyataan ini secara tersirat menunjukkan fokus dari perhatian Prabowo Subianto menyikapi dinamika dunia yang sedang berkembang. Dampak politik domestik dari perang di sana, suka atau tidak, sedang terjadi di Indonesia,” ungkapnya.

Penghormatan Terakhir
Penghormatan terakhir kepada 3 prajurit TNI yang gugur di Lebanon Selatan.

Lebih lanjut, Alto menganalisis bahwa kebijakan luar negeri Prabowo yang menerapkan strategi ‘Balancing with Great Powers’ kini tengah menghadapi tantangan dari pilar-pilar politik oposisi. Ia menyebut kelompok adversaries ini berusaha mendiskreditkan posisi Presiden.

Motif perlawanan tersebut, menurut Alto, bertujuan untuk memicu kepanikan publik yang nantinya bermuara pada perlawanan massa terhadap kepemimpinan Prabowo.

“Sikap perlawanan ini motifnya jelas: mendiskreditkan posisi Prabowo, dan memancing agitasi agar terjadi kepanikan publik yang berujung pada perlawanan massa,” tegasnya.

Alto meyakini bahwa sebagai kepala negara, Prabowo telah dibekali dengan simulasi dan proyeksi matang dari alat-alat intelijen serta keamanan negara. Hasil forecasting ini yang diduga menjadi dasar bagi Prabowo untuk mengeluarkan peringatan agar tetap menjaga persatuan di tengah situasi dunia yang memanas.

“Saya yakin bahwa alat-alat negara yang dimiliki oleh Prabowo Subianto sebagai Presiden pasti (harusnya) sudah bisa mensimulasikan aksi-aksi ini, dan pasti mampu memberikan hasil forecasting kepada Prabowo,” pungkas Alto.

Sebagai informasi, penghormatan terakhir yang dilakukan Presiden pada awal April ini menjadi simbol penghargaan tertinggi bagi personel Kontingen Garuda yang telah mengorbankan nyawa demi misi perdamaian dunia di bawah bendera PBB. Mereka antara lain ; Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadhon.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.