Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Polhukam

Ferry Koto: Rakyat Berharap Prabowo Tetap Punya Kesadaran seperti Saat Belum Menjadi Presiden

Views
×

Ferry Koto: Rakyat Berharap Prabowo Tetap Punya Kesadaran seperti Saat Belum Menjadi Presiden

Sebarkan artikel ini
Ferrykoto 1
Ferry Koto alias Zulfery Yusal Koto.

KOMA.ID, JAKARTA – Pengamat komunikasi publik Ferry Koto menilai kritik yang belakangan diarahkan kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto seharusnya dipandang sebagai bentuk kepedulian terhadap bangsa, bukan langsung diberi stigma sebagai tindakan yang berpihak kepada kepentingan asing atau dilabeli “londo ireng”.

Pernyataan itu disampaikan Ferry merespons pidato Presiden Prabowo pada peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Kamis (23/7/2026), yang menyinggung istilah “londo ireng” untuk menggambarkan pihak-pihak yang dinilai terus mengkritik pemerintah.

Silakan gulirkan ke bawah

Pemilik nama lengkap Zulfery Yusal Koto ini mengingatkan bahwa sebelum menjabat sebagai Presiden, Prabowo juga dikenal sebagai tokoh yang kerap melontarkan kritik keras terhadap pemerintahan saat itu. Menurutnya, kritik yang disampaikan Prabowo kala itu lahir dari kepedulian terhadap arah kebijakan negara, bukan karena didorong kepentingan asing.

“Untuk yang sekarang membela membabi-buta Pak Prabowo yang menuding ‘Londo Ireng’ kepada pengkritik kebijakan pemerintah, coba ingat saat Pak Prabowo mengkritik yang sama ke pemerintahan era Pak Jokowi, kalian membela Pak Prabowo atau memaki-makinya dengan menyerangnya?” ujar Ferry di akun X pribadinya, Sabtu (25/7/2026).

Ia mengaku telah lama menjadi pendukung Prabowo dan menilai kritik-kritik yang dahulu disampaikan Ketua Umum Partai Gerindra tersebut merupakan pengingat bagi pemerintah agar tidak keluar dari kepentingan rakyat.

Baca juga:
LONDO IRENG PRABOWO

“Saya pendukung Pak Prabowo cukup lama. Saat dulu beliau kritik kebijakan pemerintah, yang memang hemat saya kritiknya benar, saya dukung yang disampaikan. Kritik Pak Prabowo itu pengingat kepada yang berkuasa, bukan kritik karena tak suka,” katanya.

Ferry juga menolak anggapan bahwa kritik terhadap pemerintah selalu lahir karena adanya kepentingan asing atau dukungan pihak tertentu. Menurutnya, kritik yang pernah disampaikan Prabowo maupun sejumlah kader Gerindra, termasuk Fadli Zon, muncul karena rasa peduli terhadap bangsa.

“Kritik Pak Prabowo, juga kader Gerindra lain seperti Fadli Zon yang tak kalah keras saat tak berkuasa, bukan lahir karena ada asing yang membiayai, atau karena ‘Londo Ireng’. Bukan. Kritiknya lahir karena peduli pada rakyat, bangsa dan negara ini, dan cemas atas arah kebijakan pemerintah yang berkuasa,” ujarnya.

Karena itu, Ferry menilai ketika kini Prabowo telah menjadi Presiden, berbagai kritik yang muncul seharusnya diterima sebagai bagian dari mekanisme demokrasi. Ia mengingatkan agar pemerintah tidak memandang setiap kritik sebagai serangan terhadap kekuasaan.

“Kini saat Pak Prabowo berkuasa, dan muncul kritik yang sama, sudah semestinya setiap kritik itu didengar. Bukan malah menstigma setiap kritik sebagai ‘serangan’ ke pemerintah, atau menuding mereka yang kritis sebagai ‘Londo Ireng’,” katanya.

Ferry menambahkan bahwa dukungan kepada pemerintah tidak berarti harus membenarkan seluruh kebijakan maupun pernyataan Presiden. Menurutnya, masyarakat tetap memiliki kewajiban moral untuk mengoreksi apabila terdapat kebijakan atau sikap pemerintah yang dinilai keliru.

Di akhir pernyataannya, Ferry berharap Prabowo tetap memiliki kesadaran yang sama seperti ketika belum memegang kekuasaan sebagai Presiden. Ia menilai mandat yang diperoleh Prabowo berasal dari kepercayaan rakyat terhadap gagasan dan kritik yang selama ini disuarakannya.

“Akhirnya, sebagai rakyat, kita berharap Pak Prabowo memiliki kesadaran yang sama seperti saat belum berkuasa. Sadar bahwa kekuasaan yang digenggam saat ini adalah mandat rakyat karena rakyat percaya apa yang disuarakan Pak Prabowo saat belum berkuasa.”

Menurut Ferry, kritik yang disampaikan masyarakat melalui pengamat, organisasi masyarakat sipil, maupun jurnalis seharusnya dipahami sebagai sinyal agar pemerintah melakukan evaluasi terhadap kebijakan yang dijalankan, bukan justru dibalas dengan pelabelan negatif.

“Jika kritik rakyat yang diwakili oleh pengamat, LSM dan jurnalis masih lantang terdengar saat ini, maka itu adalah penanda bahwa pemerintahan Pak Prabowo sedang offside, peluit sedang dibunyikan, sehingga mestinya sadar untuk mengoreksi diri. Setidaknya, dengarkan suara tersebut, bukan malah antipati dengan memberi stempel ‘Londo Ireng’,” pungkas Ferry.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.
Londo Ireng Prabowo
Headline

KOMA.ID, JAKARTA – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang…