Koma.id – Candi Jago terletak di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, sekitar 22 km di sebelah timur Kota Malang. Karena lokasinya berada di Desa Tumpang, candi ini kerap disebut sebagai Candi Tumpang. Sementara itu, masyarakat setempat terkadang menyebutnya dengan istilah “cungkup.”
Menurut kitab Negarakertagama dan Pararaton, Candi Jago diidentifikasi sebagai bangunan suci “Jajaghu,” yang dibangun oleh Raja Kertanegara untuk mengenang ayahnya, Raja Jaya Wisnuwardhana dari Singasari. Pembangunan candi ini dikaitkan dengan wafatnya Raja Wisnuwardhana pada tahun 1268 M. Dalam pupuh 41 kitab Negarakertagama, disebutkan bahwa setelah wafat, Wisnuwardhana dipuja sebagai Buddha di Jajaghu (Jago) dan sebagai Siwa di Kumitir.
Bangunan candi yang ada saat ini diyakini bukan struktur aslinya, melainkan hasil pemugaran yang dilakukan oleh Adityawarman pada tahun 1350 M. Hal ini diperkuat dengan adanya struktur tambahan yang menutupi bangunan awal.
Kapolri Tanggapi Seruan Reformasi Jilid II, Minta Mahasiswa Sampaikan Aspirasi Secara Tertib
Arsitektur Candi Jago cukup unik, berbentuk seperti punden berundak, meskipun bagian atasnya kini hanya tersisa sebagian. Seperti dikutip dari laman jatimprov, terdapat cerita dari masyarakat bahwa bagian atas candi pernah tersambar petir. Pada dinding kaki dan tubuh candi terdapat relief dengan ukiran yang sangat kaya.
Dari sisa-sisa reruntuhan yang ditemukan, diperkirakan bahwa dulunya di dalam bilik utama candi terdapat sebuah arca utama yang dikelilingi oleh empat arca pendamping serta tiga belas arca Dhyani Buddha.
Candi Jago menghadap ke arah barat dan memiliki dua tangga sempit di sisi kiri dan kanan bagian depannya. Pada bagian barat candi terdapat struktur yang menjorok ke depan, digunakan sebagai tempat tangga, sehingga tubuh candi tampak seperti bergeser ke belakang.
Keunikan arsitektur Candi Jago terletak pada konstruksinya yang semakin ke atas semakin mundur ke belakang. Setiap tingkat memiliki teras yang lebih lebar di bagian depan namun semakin menyempit di bagian belakang. Di tingkat ketiga, terdapat sebuah pintu besar dengan sisa tembok batu yang sebagian masih mengelilingi ruangan.
Tembok ini sudah tidak utuh, dengan bagian atas yang sebagian besar telah hilang dan struktur tubuh candi yang mengalami kerusakan, menyisakan hanya pintu gerbangnya. Dahulu, pintu dan relung pada tubuh candi dihiasi dengan ornamen kepala kala tanpa makara.
Ciri khas kepala kala pada Candi Jago mencerminkan gaya Jawa Timur, yang ditandai dengan rahang bawah yang terlihat, mata melotot, dua pasang taring, serta hiasan tengkorak di antara kedua tanduknya. Selain itu, tangan kala digambarkan dalam posisi shuto mudra.
Seluruh bagian Candi Jago dipenuhi dengan panel-panel relief yang dipahat dengan rapi, mulai dari kaki candi hingga ke dinding ruang teratas. Hampir tidak ada bidang kosong karena seluruh permukaan dihiasi dengan berbagai ornamen. Pembangunan Candi Jago erat kaitannya dengan wafatnya Raja Wisnuwardhana. Sesuai dengan kepercayaan yang dianutnya, yaitu Siwa-Buddha Tantrayana, relief yang terdapat pada candi ini memuat ajaran dari kedua agama tersebut. (Foto: Koma.id / Andry Novelino)



















