Koma.id – Komandan Pasukan Marinir (Pasmar) 2 Mayjen TNI (Mar) Oni Junianto memastikan proses investigasi kasus peluru nyasar di Gresik masih terus berjalan, termasuk evaluasi menyeluruh terhadap prosedur latihan.
Dia mengatakan sejak awal pihaknya telah melakukan penanganan terhadap korban, mulai dari pengobatan hingga perawatan.
“Untuk korban, pengobatan dan perawatan sudah kami lakukan. Salah satu keluarga sudah menerima, sedangkan satu pihak lainnya masih belum ada titik temu. Namun, kami tetap terbuka untuk komunikasi,” ujar Oni, dikutip Selasa (14/4/2026).
Menurutnya, proses hukum saat ini juga sedang berjalan di Polisi Militer Komando Daerah Angkatan Laut (Pomal Kodareal) dan pihaknya akan mengikuti seluruh tahapan sesuai prosedur.
“Tidak ada saling mengeklaim, kami sangat terbuka. Kalau ada kesalahan SOP, siapa pun yang bertanggung jawab akan kami tindak sesuai hukum yang berlaku, tidak hanya retorika,” ucapnya.
Dalam proses investigasi, sebanyak 119 personel telah diperiksa. Selain itu, uji balistik juga akan dilakukan untuk memastikan penyebab peluru bisa keluar dari area latihan.
“Kami akan lakukan uji tembak untuk mengetahui jangkauan peluru dan mencari titik permasalahan secara akurat,” jelasnya.
Pasmar 2 juga menggandeng sejumlah pihak, termasuk produsen senjata PT Pindad, guna memperoleh data teknis sebagai bahan analisis.
Terkait lokasi latihan yang berdekatan dengan permukiman warga, Oni mengakui kondisi tersebut akan menjadi bagian evaluasi ke depan.
“Sebenarnya kami kan sudah berdiri di situ dulu, tidak ada rumah. Waktu pertama berdiri masih clear, tetapi seiring waktu masyarakat membangun permukiman. Ini akan kami kaji apakah masih layak dari sisi keamanan,” katanya.
Dia menambahkan evaluasi juga mencakup kemungkinan peningkatan standar pengamanan, termasuk penyesuaian infrastruktur seperti tanggul pengaman di area latihan.
“Kami akan evaluasi secara komprehensif, termasuk apakah perlu peninggian tanggul atau langkah lain untuk memastikan keamanan,” ujarnya.
Meski demikian, dia menegaskan latihan militer tetap menjadi kebutuhan penting dalam menjaga kesiapsiagaan. “Latihan ini juga bagian dari tanggung jawab kami kepada masyarakat,” kata dia.
Pihaknya berharap hasil investigasi dapat menemukan titik terang secara objektif, sehingga keadilan bagi korban dan kepastian hukum dapat terpenuhi.
Sebelumnya, insiden peluru nyasar menimpa Darrell Fausta Hamdani (14), siswa SMPN 33 Gresik, saat mengikuti kegiatan di musala sekolah pada 17 Desember 2025.
Peluru diduga berasal dari latihan tembak Marinir di Lapangan Tembak Bumi Marinir Karangpilang, Surabaya, yang berjarak sekitar 2,3 kilometer dari lokasi.
Akibat insiden tersebut, Darrell mengalami luka tembus di lengan kiri hingga proyektil bersarang di punggung tangan. Adapun rekannya Reinheart Okto Hanaya juga terluka di bagian punggung. Keduanya sempat dirawat di RS Siti Khodijah Sepanjang.













