Koma.id – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mengumpulkan awak media di Malang, Jawa Timur, akhir pekan lalu. Acara ini digelar untuk menjalin komunikasi dengan insan pers untuk mengawal penyelenggaraan pesta demokrasi lima tahuan mendatang.
“Kalau tidak ada wartawan bagaimana? Ikan kok tidak ada airnya. Pemilu serra penyelenggaranya dengan media massa bersama wartawannya adalah bagian tak terpisahkan,” ujar Anggota Bawaslu Totok Hariyono.
Hal ini dia sampaikan saat rapat koordinasi media massa bertajuk, Pengawasan Tahapan Pemilu Tahun 2024 bertajuk ‘Peran dan Fungsi Strategis Media Pers dalam Mengawal Pemilu 2024’ di The Singhasari Resort, Kota Batu, Jawa Timur, belum lama ini.
Dikatakan, peran media sangat efektif untuk memantau kejanggalan dan kekurangan dalam penyelenggaraan Pemilu. Sosialisasi, informasi, dan edukasi penyelenggaraan pesta demokrasi lima tahunan ini juga amat bergantung kepada media massa. “Pemilu 1955 itu pemilu yang terbaik. Tak lepas dari massifnya media massa saat itu,” tuturnya.
Wartawan dan media massa, lanjutnya, berperan amat strategis dalam pemilu, terutama pada Pemilu 2024. Media massa dan wartawan yang kompeten lah yang akan jadi lentera atau pencerah kepada publik di tengah kepungan berita bohong yang tersebar di media sosial saat ini hingga pelaksanaan pemilu nanti.
DPR Dukung Usia Pensiun Polisi 60 Tahun
“Dalam sebuah buku berjudul Matinya Sebuah Literasi, wartawan disebut menjadi pencerah, lentera saat berita-berita hoaks berseliweran. Media arus utama jadi alat ukur publik mengetahui kebenaran berita,” terangnya.
Diingatkan, wartawan dan Bawaslu punya tanggung jawabmoral sepanjang masa untuk memastikan penyelenggaraan pesta demokrasi tidak manipulatif. “Kedatangan kami ke Jawa Timur bagian membangun ikatan emosional bersama Bawaslu dan wartawan di daerah. Jadikan Pemilu 2024 itu lebih aman, nyaman, dan lebih baik dari pemilu sebelumnya,” pungkasnya.













