Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Keamanan

Islah Bahrawi Merasa Diintimidasi Militer, Dikuntit Tiap Hari

Views
×

Islah Bahrawi Merasa Diintimidasi Militer, Dikuntit Tiap Hari

Sebarkan artikel ini
Islah Bahrawi di Podcast
Islah Bahrawi alias Cak Islah.

KOMA.ID, JAKARTA – Pengamat terorisme dan pegiat demokrasi Islah Bahrawi mengaku mengalami dugaan intimidasi oleh sejumlah oknum yang diyakininya berasal dari unsur tentara. Pengakuan tersebut disampaikan Islah melalui unggahan di akun Facebook pribadinya.

Dalam unggahannya, Islah menyebut rumahnya telah “dikepung” selama 10 hari terakhir oleh orang-orang yang diduga memantau aktivitas dirinya dan keluarganya.

Silakan gulirkan ke bawah

“Dalam 10 hari terakhir rumah saya ‘dikepung’ oleh beberapa oknum yang saya yakini tentara. Mereka merekam siapapun yang beraktivitas di rumah dan lalu menguntit kemanapun saya pergi,” tulis Islah.

Pelaku Intimidasi Islah Bahrawi

Ia juga mengaku para oknum tersebut memetakan lingkungan tempat tinggalnya dan terus mendatangi area rumahnya sepanjang hari.

“Mereka juga memetakan dan mempelajari setiap lekuk teritorial di seputaran tempat saya tinggal. Mereka menyatroni rumah saya tanpa henti, dari pagi hingga pagi lagi,” lanjutnya.

Islah yang juga direktur eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI) tersebut menjelaskan alasan dirinya menggunakan istilah “kepung” dalam menggambarkan situasi yang dialaminya. Menurut dia, orang-orang tersebut hilir mudik di sekitar rumah sambil memotret dan memantau aktivitas penghuni rumah.

“Mereka hilir mudik di sekitar rumah saya, memotret dan memantau — secara tertutup atau terbuka — seolah rumah saya markas musuh yang setiap penghuninya adalah ancaman terhadap negara,” katanya.

Ia juga mengaku para oknum tersebut menanyakan rutinitas pribadinya kepada tetangga sekitar.

“Mereka kerap menanyakan rutinitas saya kepada tetangga sekitar, termasuk detil penghuni rumah. Mereka menyampaikan pesan bahwa saya sedang diawasi dan ditandai,” ujarnya.

Dalam unggahan itu, Islah menyinggung suasana yang menurutnya mengingatkan pada era Orde Baru. Ia menyebut semangat dwifungsi ABRI dan pendekatan represif terhadap kritik sipil seolah kembali muncul.

“Suasana Orde Baru telah lahir ‘caesar’ di beranda rumah saya. Dwifungsi ABRI, Kopkamtib dan UU Subversif di negara ini sudah tak ada lagi, tapi segelintir orang berusaha menghadirkan ruhnya kembali,” tulisnya.

Menurut Islah, dirinya kemungkinan menjadi sasaran karena selama ini aktif menyuarakan kritik terhadap remiliterisasi dan isu supremasi sipil.

“Mungkin saja karena saya dianggap aktivis demokrasi atau karena seringkali mengkritik remiliterisasi, tapi yang jelas wajah-wajah anti supremasi sipil itu seliweran di seputaran rumah saya,” katanya.

707914174 10231686691285099 5813866197895724582 N 1
Salah satu unit mobil yang digunakan terduga oknum aparat untuk menguntit Islah Bahrawi.

Meski demikian, Islah menegaskan dirinya tidak akan gentar menghadapi intimidasi tersebut. Ia justru menyayangkan dugaan tindakan semacam itu masih terjadi di era modern dan demokratis.

“Suara kami tidak akan pernah redup karena intimidasi ini,” tegasnya.

Ia juga menilai demokrasi semestinya dijalankan dengan penghormatan terhadap kritik dan kebebasan sipil, bukan dengan pendekatan intimidatif.

“Milenia adalah era di mana militer harus berkonsentrasi penuh menekuni akselerasi teknologi pertahanan negara. Milenia dalam peradaban sekelas Indonesia seharusnya bukan lagi era menghadapi kritisisme dengan intimidasi atas nama negara,” tulisnya.

“Kita bukan junta, tapi Demokrasi Pancasila. Kita ini Indonesia, bukan Korea Utara,” sambung Islah.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.