KOMA.ID, JAKARTA – Aktivis dan pegiat media sosial sekaligus Direktur eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI), Islah Bahrawi, mempertanyakan belum adanya proses hukum yang terbuka terkait meninggalnya lima peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) dalam program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).
Melalui akun media sosial pribadinya, Islah menilai setiap kematian yang terjadi dalam kegiatan pendidikan atau pelatihan seharusnya menjadi perhatian serius aparat penegak hukum, tanpa memandang institusi yang terlibat.
Hizkia Darmayana Anggap Positif Hasil Survei Litbang Kompas, Rakyat Rasakan Perbaikan Kinerja Polri
“Ospek di kampus aja kalau ada 1 orang yang meninggal pasti diusut penegak hukum. Dikejar sampe ke pucuknya. Latsarmil Kopdes ini 5 orang meninggal, terus dibiarkan aja karena melibatkan struktur tentara, gitu?” tulis Islah Bahrawi, Sabtu (27/6/2026).
Ia kemudian mengkritik adanya kesan perlakuan hukum yang berbeda antara institusi sipil dan institusi militer dalam penanganan kasus yang menimbulkan korban jiwa.
“Tajam ke sipil, tumpul ke tentara. Negara hukum macam apa kita ini?” lanjutnya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya sorotan publik terhadap pelaksanaan Latsarmil SPPI yang digelar sebagai bagian dari pembentukan calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih.
Sejumlah pihak sebelumnya juga telah meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap metode pelatihan yang diterapkan, termasuk membuka ruang investigasi independen guna memastikan penyebab kematian para peserta dapat diungkap secara transparan.
Kementerian Pertahanan sendiri menyatakan telah melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program SPPI serta menyampaikan belasungkawa atas wafatnya para peserta. Pemerintah juga menegaskan seluruh peserta yang mengikuti pendidikan telah melalui tahapan seleksi kesehatan sesuai ketentuan yang berlaku.
Lima Peserta SPPI yang Meninggal Dunia
Hingga Sabtu (27/6/2026), tercatat lima peserta SPPI meninggal dunia saat mengikuti rangkaian pendidikan Latsarmil di lokasi yang berbeda.
1. Yonanda Muhammad Taufiq
– Meninggal: 17 Juni 2026
– Lokasi: Baturaja, Sumatera Selatan
– Penyebab yang dilaporkan: henti jantung (cardiac arrest).
2. Anisa Muyassaroh
– Meninggal: 18 Juni 2026
– Lokasi: Balikpapan, Kalimantan Timur
– Penyebab yang dilaporkan: heat stroke atau gangguan akibat paparan panas berlebih saat pelatihan.
3. Novia Rahmadhani Sihotang
– Meninggal: 23 Juni 2026
– Lokasi: Jakarta
– Penyebab yang dilaporkan: tuberkulosis (TB) yang disertai komplikasi kesehatan.
4. Muhammad Rifki Renaldi Gunawan
– Meninggal: 26 Juni 2026 pukul 00.28 WIB
– Lokasi pendidikan: Satdik Yon Parako 465
– Sebelum meninggal dilaporkan mengalami sesak napas, sempat dirawat di RSAU dr. Esnawan Antariksa dan menjalani perawatan intensif di ICU.
5. Nola Dya Sari
– Meninggal: 27 Juni 2026
– Lokasi pendidikan: masih dalam pendalaman publik saat laporan berkembang
– Penyebab kematian belum diumumkan secara rinci kepada publik.
Rentetan kematian tersebut kini menjadi perhatian luas masyarakat dan memunculkan desakan agar dilakukan pengusutan menyeluruh untuk memastikan ada atau tidaknya faktor kelalaian, kesalahan prosedur, maupun persoalan sistemik dalam pelaksanaan Latsarmil SPPI 2026.













