Koma.id — Seorang siswa Sekolah Dasar (SD) berusia 10 tahun berinisial YBS mengakhiri hidupnya di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah merasa tidak mampu membeli buku tulis dan pena untuk keperluan sekolahnya. Peristiwa tragis itu terjadi akibat kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas, di mana orang tua korban tidak mampu memenuhi kebutuhan alat tulis yang diminta.
Kejadian ini memicu keprihatinan publik dan desakan evaluasi kebijakan. DPR RI menilai tragedi tersebut harus menjadi alarm serius bagi negara dalam menjamin perlindungan dan pemenuhan hak pendidikan anak.
Anggota Komisi VIII DPR RI Ina Ammania menyatakan kasus itu menunjukkan masih ada warga negara yang tidak sepenuhnya terlindungi dalam akses pendidikan meskipun anggaran pendidikan telah dialokasikan besar. Ia menekankan pentingnya negara hadir untuk memastikan hak anak terpenuhi tanpa hambatan ekonomi.
“Kejadian ini harus menjadi alarm serius bagi negara. Contoh potret yang buruk bagi dunia pendidikan, termasuk hak-haknya,” kata Ina Ammania.
Pihak legislatif juga mendorong keterlibatan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) untuk memastikan perlindungan lebih kuat terhadap anak-anak rentan, terutama di daerah terpencil seperti Ngada.
Respon Pemerintah
Pemerintah pusat juga buka suara terkait tragedi ini. Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyampaikan duka cita mendalam atas kejadian yang menimpa korban. Ia menyebut peristiwa tersebut menjadi perhatian bersama pemerintah pusat dan daerah, sehingga diperlukan penguatan pendampingan sosial serta basis data keluarga yang membutuhkan agar tidak ada yang terlewat dari bantuan sosial.
Gus Ipul menekankan bahwa data yang kuat dan akurat penting untuk menjangkau seluruh keluarga miskin ekstrem dan memastikan mereka mendapatkan perlindungan, rehabilitasi, dan pemberdayaan yang diperlukan.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyatakan pihaknya akan melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait peristiwa tragis itu untuk mengetahui akar permasalahan dan mencegah kejadian serupa di kemudian hari.
Kondisi Keluarga dan Kronologi
Dari keterangan yang dirangkum, korban tinggal bersama keluarganya yang hidup dalam kondisi ekonomi sangat terbatas. Ia sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli alat tulis seharga kurang dari Rp10.000, namun permintaan itu tidak dapat terpenuhi karena situasi ekonomi keluarga. Korban kemudian mengakhiri hidupnya dan meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya.












