Koma.id – Virus politik menjelang pemiliham umum tahun 2024 mendatang diyakini lebih ganas dan berbahaya dari virus pandemi Covid-19 yang pernah menjangkit Indonesia beberapa tahun lalu.
Direktur Esekutif Rumah Politik Indonesia, Fernando EMaS berharap virus-virus politik di tengah tensi politik yang kian memanas ini tak memicu korban dari masyarakat.
“Kita masih saja ingat peristiwa Covid-19 yang sangat mengkhawtirkan kemudian banyak korban. Saya berhadap politik di 2024 tidak memakan banyak korban,” ujar Fernando dalam Podcast Koma Indonesia berjudul ‘Virus Politik Lebih Ganas dari Virus Corona’, Rabu (9/8/2023).
Menurut Fernando, virus berdampak merusak sel-sel yang ada di dalam tubuh seperti Corona. Apabila melihat situasi perpolitkan hari ini diyakini banyak virus-virus yang bisa mengganggu dalam perpolitikan khususnya kamtimbmas
Selain itu virus yang kerap menjangkit adalah virus money politik yang sehingga dapat merusak tatanan demokrasi di Indonesiayang di mana calon peserta pemilu dipilih hanya karena uang.
“Dalam politik ini kan bukan hanya saja dalam pemilu juga tentang bagaimana tata pemerintahan. Dalam pemerintahan juga korupsi itu juga menjadi virus. Virus korupsi itu terjadi di mana-mana misal kepala daerah yang ditangkap oleh KPK,” ungkap Fernando.
“Ini yang harus kita pikirkan virus-virus ini tidak merusak sehingga negara ini bisa berjalan dengan baik,” tambahnya lagi.
Alumni Universitas Indonesia ini (UI) juga mengomentari situasi politik yang dimana partai koalisi belum mengumumkan siapa cawapresnya.
“Kalupun sampe saat ini belum ada cawapresnya itu kewenangan mereka tapi kita berharap siapa pun cawapres yang dipilih itu memang orang yang benar-benar tepat untuk kepentingan bangsa dan negara dan orang-prang yang tidak berpotensi menggunakan isu-isu yang mempolitiasi agama dan berpotensi untuk memancing keributan,” ujarnya.
“Terpenting, mereka harus benar-benar serius untuk memikirkan bangsa dan negara, pikirkan rakyat. Jadi kembali lagi mereka terpilih bukan karena uangnya, tetapi karena memang kredibilitas dia, kemampuan dia,” tukas Fernando.










