KOMA.ID, JAKARTA – Bos KedaiKopi, Hendri Satrio memberikan sentilan kepada Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menteri PPPA) Arifatul Choiri Fauzi. Hal ini terkait polemik gerbong kereta khusus perempuan, pasca kecelakaan maut di Stasiun Bekasi Timur.
Menurut pria yang karib disapa Hensa tersebut, statemen Arifah tersebut justru menunjukkan bahwa istri tokoh NU Ngatawi Al-Zastrow tersebut tidak paham apa itu arti pemberdayaan.
“Bahkan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pun tidak mengerti arti kata pemberdayaan,” tulis Hensa di akun X pribadinya @satriohendri, Rabu (29/4/2026).
Kemudian, ia juga mengatakan bahwa sosok Arifatul Fauzi tersebut adalah contoh fakta bagaimana kualitas sosok menteri di Kabinet Merah Putih. Menurutnya, orang seperti ini sebaiknya dipertimbangkan lagi untuk tetap menjabat di pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto.
“Ibu ini adalah salah satu bukti quality gap yang terjadi di kabinet merah putih,” ujarnya.
DPR Dukung Usia Pensiun Polisi 60 Tahun
Saran dia, Arifatul Choiri Fauzi tersebut sebaiknya mengundurkan diri dari jabatannya saat ini, karena statemennya yang cukup nyeleneh soal ide pemindahan gerbong khusus perempuan di commuter line PT KAI tersebut.
“Mestinya mundur, tapi pasti gak mau! Beban negeri ini besar betul ya,” pungkas Hensa.
Sebelumnya diberitakan, bahwa Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) di Kabinet Merah Putih, Arifatul Choiri Fauzi mengusulkan agar gerbong perempuan dipindah ke tengah saja.
Hal ini sesuai dengan hasil diskusinya dengan pihak PT KAI untuk menyikapi insiden kecelakaan maut yang terjadi antara KRL Commuter Line vs Kereta Api Agro Bromo Anggrek di kawasan Stasiun Bekasi Timur pada hari Senin, 27 April 2026 malam.
“Tadi kalau kita ngobrol dengan KAI kenapa (gerbong perempuan) ditaruh di depan (dan) paling belakang supaya tidak terjadi rebutan,” kata Arifah di Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Oleh sebab itu, demi menghindari kecelakaan kereta serupa di kemudian hari yang dialami oleh kaum perempuan di dalam kereta, ia mengusilkan agar dipindah regulasi di KAI, agar gerbong perempuan tidak lagi di belakang dan di depan.
Sementara gerbong yang sebelum dikhususkan untuk perempuan diubah untuk kaum laki-laki, sehingga ketika ada insiden kecelakaan serupa seperti di Stasiun Bekasi Timur, tidak ada korban wanita yang terjadi.
“Tapi dengan peristiwa ini kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah. Jadi yang laki-laku di ujung, iya, depan belakang laki-laki, jadi yang perempuan di tengah,” usulnya.













