Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Ragam

Dirut PT KAI Tolak Usulan Menteri PPPA

Views
×

Dirut PT KAI Tolak Usulan Menteri PPPA

Sebarkan artikel ini
Bobby Rasyidin
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin. [Foto : Kompas]

KOMA.ID, JAKARTA – Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (PT KAI), Bobby Rasyidin, secara tegas menolak usulan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi terkait pemindahan gerbong wanita KRL ke bagian tengah rangkaian.

Usulan tersebut sebelumnya muncul setelah kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur yang menewaskan 15 penumpang perempuan dari gerbong wanita yang berada di posisi ujung rangkaian tertabrak KA Argo Bromo Anggrek.

Silakan gulirkan ke bawah

PT KAI menegaskan bahwa kebijakan keselamatan transportasi kereta api tidak akan membedakan penumpang berdasarkan gender dalam kondisi apa pun.

“KAI menjamin keselamatan, bagi kami keselamatan tidak ada toleransinya, tidak ada kompromi sama sekali, dan kami tidak membedakan gender laki-laki dan perempuan,” ungkap Bobby dalam jumpa pers di Stasiun Bekasi Timur, Rabu (29/4/2026).

Meski demikian, Bobby menjelaskan bahwa penempatan gerbong wanita selama ini bertujuan untuk memberikan kenyamanan serta kemudahan akses bagi penumpang perempuan.

“Jadi selama ini kami mengutamakan perempuan untuk tingkat kenyamanan dan kemudahan akses dan tentunya keamanan di dalam kereta juga,” paparnya.

Ia kembali menegaskan bahwa PT KAI tidak memberi toleransi terhadap penurunan standar keselamatan bagi seluruh pengguna jasa tanpa terkecuali.

“Kami tidak ada toleransi sama sekali pun untuk melanggar atau menurunkan tingkat keselamatan dari para pelanggan, pengguna jasa PT Kereta Api Indonesia, baik itu gendernya laki-laki maupun perempuan,” tegasnya.

Sebelumnya diberitakan, bahwa Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) di Kabinet Merah Putih, Arifatul Choiri Fauzi mengusulkan agar gerbong perempuan dipindah ke tengah saja.

Hal ini sesuai dengan hasil diskusinya dengan pihak PT KAI untuk menyikapi insiden kecelakaan maut yang terjadi antara KRL Commuter Line vs Kereta Api Agro Bromo Anggrek di kawasan Stasiun Bekasi Timur pada hari Senin, 27 April 2026 malam.

“Tadi kalau kita ngobrol dengan KAI kenapa (gerbong perempuan) ditaruh di depan (dan) paling belakang supaya tidak terjadi rebutan,” kata Arifah di Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Oleh sebab itu, demi menghindari kecelakaan kereta serupa di kemudian hari yang dialami oleh kaum perempuan di dalam kereta, ia mengusilkan agar dipindah regulasi di KAI, agar gerbong perempuan tidak lagi di belakang dan di depan.

Sementara gerbong yang sebelum dikhususkan untuk perempuan diubah untuk kaum laki-laki, sehingga ketika ada insiden kecelakaan serupa seperti di Stasiun Bekasi Timur, tidak ada korban wanita yang terjadi.

“Tapi dengan peristiwa ini kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah. Jadi yang laki-laku di ujung, iya, depan belakang laki-laki, jadi yang perempuan di tengah,” usulnya.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.