Koma.id, Jakarta – Dr. (C) Haris Amir Falah, mantan narapidana terorisme (napiter), menilai wacana penempatan Polri di bawah kementerian berpotensi memengaruhi efektivitas penanganan terorisme di Indonesia.
Menurutnya, terorisme merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang membutuhkan respons cepat, terukur, dan minim hambatan birokrasi. Jika Polri ditempatkan di bawah kementerian, ia menilai rantai koordinasi berpotensi menjadi lebih panjang dan kompleks.
“Terorisme itu extraordinary crime. Kalau ditangani dalam struktur kementerian, pasti lintas kementerian. Koordinasinya banyak dan tidak cepat. Padahal tindak teror harus ditindak cepat,” ujarnya.
Haris menjelaskan, kelompok teror memiliki strategi rapi untuk menghilangkan jejak dan memindahkan basis operasi. Keterlambatan respons, meski hanya sedikit, bisa dimanfaatkan oleh jaringan tersebut.
“Kalau birokrasi panjang, itu justru menguntungkan organisasi teror. Mereka punya waktu untuk menghilangkan jejak atau berpindah tempat,” katanya.
Ia menilai struktur kelembagaan Polri sangat berpengaruh terhadap cara negara menangani ancaman radikalisme dan terorisme. Menurutnya, sejak era reformasi ketika Polri berada langsung di bawah Presiden, jalur komando relatif lebih ringkas.
Meski demikian, ia mengakui bahwa dalam praktiknya tetap ada situasi yang disebut publik sebagai “kecolongan”, walaupun jalur koordinasi sudah langsung dari Presiden ke Polri tanpa jenjang tambahan.
“Nah, bagaimana kalau harus melewati birokrasi yang lebih panjang lagi?” ucapnya.
Haris menambahkan, dalam situasi darurat, kemampuan Kapolri melapor langsung kepada Presiden dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kecepatan pengambilan keputusan. Dalam konteks ancaman yang unpredictable dan bisa terjadi dalam hitungan detik, efektivitas struktur dinilai menjadi faktor krusial.
Menurutnya, kelompok teror yang sudah terorganisir dengan baik biasanya telah menyiapkan berbagai skenario, termasuk lokasi persembunyian dan strategi mobilitas. Karena itu, kecepatan negara dalam merespons menjadi kunci.
“Kalau ada ruang waktu sedikit saja, itu bisa dimanfaatkan. Jadi struktur itu sangat-sangat berpengaruh,” tegasnya.











