Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Nasional

Rampai Nusantara Puji Listyo Sigit! Kapolri Paling Terbuka Dikritik, Tapi Ada ‘Penyakit Lama’ POLRI yang Harus Dibersihkan

Views
×

Rampai Nusantara Puji Listyo Sigit! Kapolri Paling Terbuka Dikritik, Tapi Ada ‘Penyakit Lama’ POLRI yang Harus Dibersihkan

Sebarkan artikel ini
Img 20260513 Wa0036

Jakarta – Ketua Umum Rampai Nusantara, Mardiansyah atau yang akrab disapa Semar, menyampaikan harapannya terhadap masa depan reformasi Kepolisian Negara Republik Indonesia agar semakin profesional, humanis, dan terbuka terhadap kritik masyarakat.

Hal itu disampaikan Semar dalam podcast bersama Koma saat membahas arah reformasi Polri ke depan.

Silakan gulirkan ke bawah

Menurutnya, salah satu hal positif yang harus dipertahankan adalah tradisi keterbukaan terhadap kritik yang selama ini dibangun oleh Listyo Sigit Prabowo.

“Saya berharap tradisi Kapolri sekarang membuka ruang kritik terhadap kepolisian itu terus dilanjutkan,” ujar Semar.

Ia menilai langkah Kapolri yang memfasilitasi kritik terbuka terhadap institusi kepolisian merupakan sesuatu yang unik dan belum pernah terjadi sebelumnya.

Semar mencontohkan kegiatan lomba mural bertema kritik terhadap Polri hingga lomba stand up comedy yang secara terbuka mengkritik institusi kepolisian namun justru difasilitasi langsung oleh Polri.

“Menurut kami, tidak ada keraguan dari Jenderal Listyo Sigit bahwa semua orang punya kebebasan berpendapat yang harus dijaga,” katanya.

Ia juga menyoroti momen ketika Kapolri naik ke mobil komando saat aksi demonstrasi di depan DPR dan memberikan jaminan keamanan kepada para mahasiswa dan demonstran untuk menyampaikan aspirasi secara damai.

“Itu sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Kapolri naik ke mobil komando dan menjamin keamanan masyarakat yang ingin menyampaikan pendapat,” ujar Semar.

Karena itu, Rampai Nusantara berharap budaya keterbukaan terhadap kritik tersebut dapat terus dijalankan secara konsisten agar publik melihat bahwa institusi kepolisian bukan anti kritik.

“Polisi jangan membungkam kritik, tapi justru membuka ruang seluas-luasnya terhadap kritik,” tegasnya.

Meski demikian, Semar mengakui masih ada persoalan mendasar di tubuh Polri yang harus segera dibenahi, terutama kebiasaan-kebiasaan buruk yang selama ini berulang dan membentuk citra negatif terhadap institusi.

Ia menilai penguatan pengawasan menjadi salah satu langkah penting untuk menekan pelanggaran yang dilakukan oknum anggota.

“Kalau kita lihat, pelanggaran yang dilakukan anggota sering kali itu-itu lagi dan berulang terus. Itu yang harus diminimalisir,” katanya.

Namun menurut Semar, perubahan kultur di institusi sebesar Polri bukan hal mudah dan membutuhkan proses panjang.

Ia bahkan mengibaratkan perubahan budaya di tubuh kepolisian seperti mengubah kebiasaan sehari-hari yang sudah berlangsung lama.

“Merubah budaya itu tidak gampang, tidak bisa seperti membalik telapak tangan. Butuh revolusi mental, revolusi kultur,” ujarnya.

Semar menegaskan tantangan terbesar reformasi Polri ke depan bukan hanya soal aturan, tetapi bagaimana membangun perubahan budaya kerja dan mentalitas aparat secara menyeluruh agar kepercayaan publik terhadap kepolisian semakin kuat.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.