Koma.id – Hasil penelitian yang dilakukan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) menungkapkan bahwa bahwa jumlah hoaks di Indonesia mencapai 1.698 kasus pada 2022, dengan dominasi tema politik menyusul kian dekatnya Pemilu 2024.
Jumlah total temuan hoaks oleh Mafindo pada tahun 2022 sebanyak 1.698. Relatif masih lumayan lah karena mungkin bapak/ibu akan kaget ketika di triwulan 2023 saja ternyata jumlahnya sudah banyak,” ujar Presidium Litbang Mafindo, Loina Perangin-Angin dikutip Senin (8/5/2023).
Frans Freddy Soroti Kericuhan Diskusi di UGM: Kampus Harus Jadi Arena Adu Gagasan, Bukan Adu Emosi
Ia mengatakan jumlah hoaks pada tahun 2018 sekitar 997 kasus, lalu naik 224 kasus menjadi 1.221 pada 2019.
Ghilman Hanif Ingatkan Kritik Mahasiswa Harus Jadi Bahan Evaluasi, Bukan Ancaman bagi Pemerintah
Kemudian pada 2020 jumlah hoaks mengalami peningkatan sekitar 2.298 kasus yang didominasi oleh tema kesehatan.
Namun, kata dia, jumlah hoaks menyusut pada 2021 menjadi 1.888 kasus dan 2022 kian menurun menjadi 1.698 kasus, dan diperkirakan jumlah hoaks akan mengalami kenaikan pada tahun ini.
Loina menjelaskan jumlah hoaks tertinggi pada bulan Februari 2022 dengan temuan sebanyak 181 hoaks atau sekitar 10,7 persen. Hal ini disebabkan bulan Januari-Februari adalah masa-masa kasus Omicron sangat tinggi di Indonesia sejak ditemukan pertama kali pada November 2021.
Apabila dilihat secara keseluruhan, kata dia, tema politik mendominasi dengan jumlah 549 temuan atau 32,3 persen, sedangkan tema kesehatan berkisar 242 hoaks atau 14,3 persen.
“Memang ada perubahan tren dibandingkan tahun 2021 di mana tema politik masih berada di bawah tema kesehatan. Pada 2021 dari total 1.888 temuan, tema kesehatan sebanyak 467 atau 24,7 persen, sedangkan tema politik sebanyak 428 atau 22,7 persen,” ujarnya.
Ia menyebut tema kesehatan masih mendominasi pada Januari dan Februari ketika kasus Covid-19 sedang tinggi dengan masuknya varian Omicron di Indonesia.
“Selanjutnya, sejak Maret tren mulai bergeser ke arah dominasi tema politik hingga akhir tahun dengan selisih yang cukup signifikan dibandingkan dengan tema-tema lainnya,” ujarnya.
Menurut Loina, hoaks sepanjang 2022 didominasi oleh “Konten yang Menyesatkan” dengan jumlah 680 atau 40 persen, kemudian disusul “Konten yang Salah” dengan jumlah 345 atau 20,3 persen.
“Keduanya merupakan tipe mis/disinformasi dengan unsur pengelabuan yang kuat. Ini indikasi bahwa hoaks pada 2022 sebagian besar didesain dengan sengaja untuk memanipulasi pembacanya,” ungkap Loina.
Selain itu, kata dia, sebagian besar hoaks pada 2022 berbentuk campuran, sebab hoaks dengan kombinasi antara teks dengan gambar/video ditemukan sebanyak 1.345 atau 79,2 persen.
“Artinya informasi visual menjadi andalan pembuat hoaks untuk menyampaikan klaimnya,” ujarnya.













