Koma.id – Capres nomor urut 2 Prabowo Subianto bicara komitmennya terkait kebebasan pers di Indonesia. Prabowo juga mengatakan, dia adalah orang yang percaya demokrasi.
Hal tersebut dikatakan Prabowo saat menghadiri diskusi PWI di Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis (4/1).
Awalnya, eks Pangkostrad ini menegaskan bahwa dia orang yang percaya dengan demokrasi meski banyak yang menuduhnya mau melakukan kudeta pada 1998 silam.
“Begini, Saudara-saudara, saya orang yang percaya dengan demokrasi. Saya kira saya sudah buktikan komitmen saya dengan demokrasi. Saya dulu tentara, dulu banyak menuduh saya ini itu, mau kudeta, ya, kan. Tapi saya tidak kudeta. Berkali-berkali [dituduh], nggak tahu mungkin muka saya muka kudeta kali,” kata Prabowo disambut tawa hadirin.
Mantan menantu Presiden ke-2 RI Soeharto ini mengatakan, dia juga mengikuti proses demokrasi selama ini. Prabowo juga menceritakan ketika dia beberapa kali kalah dalam proses pemilu.
“Saya bikin partai baru setapak, demi setapak, saya ikut pemilu sudah ke berapa kali. Sekali 2009 sebagai calon wakil presiden Ibu Mega, abis itu sebagai capres. Capres lagi, 2 kali kalah. Abis itu keempat kali, saya percaya dengan proses demokratis. Elemen dari demokrasi pertama adalah pemilihan umum. Rakyat harus bisa memilih pemimpin,” ucap eks Ketum Gerindra ini.
Lebih lanjut, Prabowo mengatakan bahwa kebebasan pers itu penting untuk mengendalikan penguasa. Dia juga mengatakan pers haruslah bisa mengkritik dengan keras.
“Yang kedua adalah kebebasan pers. Kebebasan pers itu adalah check and balances, untuk mengendalikan si penguasa. Dan dengan kebebasan dengan pers yang dinamis, dan pers kalau perlu keras, kadang sakit hati kita baca. Tapi itu juga mengendalikan kita, itu memberi tahu kita something wrong,” kata dia.
“Ada masalah di negara kita. Sering dikatakan suatu negara yang persnya kuat, tidak ada kelaparan. Itu salah satu. Karena begitu ada kelaparan tek, tek, tek, tek semua tahu,” tambahnya.
Prabowo menyebut dia tidak mungkin ada dalam diskusi ini jika pers tidak bebas. Ia juga menyebut bahwa dia memiliki koran.
“Menurut saya pers adalah faktor demokrasi tersebut. Dan itu situasinya begitu. Maaf ya sekarang saya juga, saya jelek-jelek gini kita punya koran juga. Walaupun oplahnya nggak banyak, kadang-kadang saking nggak banyaknya kita bagi-bagi saja. Ada majalah, sekarang ada televisi,” ujar Prabowo tanpa merinci nama-nama media tersebut.














