KOMA.ID, JAKARTA – Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, menilai kebersamaan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi momen menarik dalam perspektif komunikasi politik.
Menurut Arifki, interaksi Prabowo dan Jokowi yang terlihat cair menunjukkan bahwa hubungan keduanya masih berlangsung dengan baik. Namun, ia mengingatkan agar publik tidak terburu-buru menarik kesimpulan politik hanya berdasarkan satu momen.
“Kalau melihat momennya, tidak terlihat adanya jarak yang mencolok antara Prabowo dan Jokowi. Mereka bisa berbincang dan menikmati acara bersama. Tetapi tentu satu momen tidak cukup untuk menyimpulkan keseluruhan hubungan politik keduanya,” ujar Arifki.
Ia mengatakan, relasi Prabowo dan Jokowi memiliki perjalanan politik yang panjang. Keduanya pernah berhadapan sebagai rival dalam Pilpres 2014 dan 2019, sebelum akhirnya membangun kerja sama politik.
Bagi Arifki, dinamika tersebut menunjukkan bahwa rivalitas dalam kontestasi elektoral tidak selalu berujung pada permusuhan politik atau personal secara permanen.
Puan Tegaskan Siap Temui Peserta Demo di DPR
“Ini menunjukkan bahwa hubungan politik bisa berubah mengikuti dinamika dan kepentingan yang berkembang. Rivalitas elektoral tidak selalu berarti hubungan personal atau politik harus terus berseberangan,” katanya.
Arifki juga menyoroti konfigurasi ketiganya dalam satu frame, terlebih karena Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono tidak hadir dalam momentum yang sama.
Meski demikian, ia meminta ketidakhadiran kedua tokoh tersebut tidak ditafsirkan sebagai bentuk pertarungan simbolik. Menurutnya, secara visual, keberadaan Prabowo, Jokowi, dan Gibran dalam satu momentum memang memiliki daya tarik politik tersendiri.
“Dalam komunikasi politik, sebuah frame bisa membentuk persepsi. Tetapi persepsi itu tetap perlu dibaca bersama konteks yang lebih luas,” ujarnya.
Posisi Prabowo yang berada di antara Jokowi dan Gibran, lanjut Arifki, juga dapat dibaca sebagai simbol yang menarik. Satu sisi terdapat Jokowi sebagai mantan presiden, kemudian Prabowo sebagai presiden yang sedang menjabat, serta Gibran sebagai wakil presiden.
“Satu frame ini mempertemukan tiga posisi politik dalam satu momentum. Apakah itu memiliki konsekuensi politik lebih jauh, tentu masih terlalu dini untuk disimpulkan,” kata Arifki.
Karena itu, ia mengingatkan publik agar tidak langsung menghubungkan kebersamaan tersebut dengan kemungkinan konfigurasi Pilpres 2029.
Menurut Arifki, dinamika menuju Pemilu 2029 masih sangat panjang sehingga berbagai kemungkinan politik masih dapat berubah seiring perkembangan situasi.
“Kita masih terlalu jauh kalau menjadikan satu momen sebagai indikasi koalisi atau pasangan politik 2029. Yang bisa kita katakan saat ini adalah hubungan komunikasi antara Jokowi dan Prabowo terlihat tetap cair,” tuturnya.
Arifki menilai pembacaan terhadap hubungan elite politik juga tidak seharusnya hanya menggunakan perspektif hitam-putih, seperti yang kerap muncul dalam percakapan di media sosial.
Dalam politik, menurutnya, perbedaan kepentingan tidak otomatis menghilangkan komunikasi antarelite. Sebaliknya, kedekatan yang terlihat dalam sebuah momentum juga belum tentu menunjukkan adanya kesamaan seluruh agenda politik.
“Dekat tidak selalu berarti satu agenda, dan berbeda tidak selalu berarti bermusuhan,” katanya.
Ia pun menyebut kebersamaan Prabowo, Jokowi, dan Gibran tersebut lebih tepat dipandang sebagai sinyal komunikasi yang positif ketimbang langsung dianggap sebagai pertanda terbentuknya konfigurasi politik baru.
“Karena itu, saya melihat momen ini sebagai kode komunikasi yang baik, bukan kesimpulan politik. Apakah kedekatan tersebut akan berlanjut dan memiliki implikasi terhadap konfigurasi politik ke depan, tentu akan terlihat dari perkembangan politik berikutnya. Untuk saat ini, publik cukup membaca apa yang terlihat tanpa perlu menarik kesimpulan terlalu jauh,” pungkas Arifki.














