Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Berita

Jalan Rusak di Matraman Raya Telan Nyawa Pelajar, Gubernur Pramono Perintahkan Tambal Sementara

×

Jalan Rusak di Matraman Raya Telan Nyawa Pelajar, Gubernur Pramono Perintahkan Tambal Sementara

Sebarkan artikel ini
Jalan Rusak di Matraman Raya Telan Nyawa Pelajar, Gubernur Pramono Perintahkan Tambal Sementara
Ilustrasi jalanan rusak di Jakarta. (Foto: Koma.id / Andry Novelino)

Koma.id – Kecelakaan lalu lintas tunggal yang menewaskan pelajar SMK di Jalan Matraman Raya, Jakarta Timur, kembali membuka borok lama soal buruknya kualitas infrastruktur jalan ibu kota. Korban, Aldi Surya Putra, siswa SMKN 34 Jakarta, meninggal dunia pada Senin pagi (10/2/2026) setelah motor yang dikendarainya kehilangan kendali di ruas jalan berlubang dan licin.

Berdasarkan penelusuran awal serta rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian, korban diduga melaju dengan kecepatan cukup tinggi sebelum akhirnya terjatuh akibat kondisi permukaan jalan yang rusak. Lubang jalan yang tertutup genangan air disebut membuat pengendara sulit mengantisipasi bahaya, terutama saat hujan.

Silakan gulirkan ke bawah

Kondisi Jalan Matraman Raya sejatinya bukan persoalan baru. Keluhan soal jalan berlubang sudah lama disuarakan pengguna jalan. Namun, perbaikan yang dilakukan kerap bersifat tambal sulam dan tidak bertahan lama.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat dan mengakui perbaikan jalan yang dilakukan Pemprov sering kembali rusak akibat curah hujan tinggi. Ia juga menyatakan telah memerintahkan jajaran terkait untuk melakukan penambalan sementara di titik-titik rawan.

“Walaupun kemudian ketika hujan akan mohon maaf pasti sebagian ada yang terbongkar kembali,” kata Pramono di Jakarta, Senin (9/2).

Pramono mengatakan, Dinas Bina Marga DKI telah memperbaiki jalan rusak meski masih musim hujan. Hal itu diminta Pramono untuk mencegah kecelakaan akibat jalan berlubang.

“Saya sudah memerintahkan kepada Dinas Perhubungan karena sudah tidak bisa lagi menunggu sampai dengan kemudian hujan berhenti,” urainya.

Namun, pernyataan tersebut justru menuai kritik. Penanganan tambal sementara dinilai tidak menyentuh akar persoalan dan berpotensi terus memakan korban. Jalan berlubang yang hanya ditutup aspal tipis atau material darurat kerap kembali rusak dalam hitungan hari, terutama saat hujan deras dan lalu lintas padat.

Dalam konteks keselamatan publik, pendekatan darurat semacam ini dianggap tidak sebanding dengan risiko yang ditanggung pengguna jalan. Tambal sementara bukan solusi struktural, melainkan sekadar respons reaktif setelah korban berjatuhan.

Pemprov DKI Jakarta menyatakan bertanggung jawab penuh atas insiden tersebut, termasuk menanggung seluruh biaya perawatan medis hingga pemakaman korban. Namun, tanggung jawab pascakejadian tidak menghapus pertanyaan mendasar soal pencegahan.

Kematian Aldi menjadi pengingat bahwa persoalan infrastruktur bukan sekadar soal estetika kota atau kelancaran lalu lintas, melainkan menyangkut nyawa warga. Selama kebijakan perbaikan jalan masih bertumpu pada solusi cepat dan sementara, risiko kecelakaan serupa akan terus menghantui.

Tragedi ini menegaskan satu hal: jalan rusak bukan sekadar kelalaian teknis, tetapi kegagalan negara melindungi keselamatan warganya di ruang publik.

 

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.