Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
DaerahEkonomiFeatured

Empu Keris Perempuan, Mantan Staf Penerbangan

×

Empu Keris Perempuan, Mantan Staf Penerbangan

Sebarkan artikel ini
Img 20260902 Wa0011
Hashilatun Nasifah atau Sisil, empu keris perempuan asal Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. (Foto /akun tiktok @pradnyashilaparamitha)

Koma.id Hashilatun Nasifah atau akrab disapa Sisil memilih jalan hidup yang tidak biasa. Perempuan asal Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, itu meninggalkan pekerjaannya sebagai staf penerbangan untuk meneruskan tradisi keluarga sebagai empu keris.

Sisil yang kini berusia 25 tahun merupakan salah satu dari sedikit perempuan yang menekuni profesi sebagai pembuat keris. Ia tercatat sebagai salah satu dari enam empu keris perempuan di Desa Aeng Tongtong, yang dikenal sebagai salah satu sentra pembuatan keris di Madura.

Silakan gulirkan ke bawah

Pilihan hidup Sisil terbilang tidak biasa. Setelah menamatkan sekolah penerbangan di Sidoarjo, ia sempat bekerja sebagai petugas ticketing dan kargo di Bandara Juanda.

Namun, beberapa tahun lalu, ia memutuskan pulang ke kampung halaman dan menekuni profesi yang telah diwariskan keluarganya selama bergenerasi-generasi, yakni membuat keris.

“Sebagai keturunan seorang empu, tentunya sejak kecil saya sudah tidak asing lagi dengan keris. Karena dunia keris merupakan aktivitas turun-temurun dalam keluarga,” kata Sisil.

Menurutnya, keris memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar benda pusaka.

“Dan kuatnya nilai-nilai yang ada dalam keris terus ditanamkan pada saya akhirnya muncul ketertarikan saya, bagaimana saya bisa melanjutkan aktivitas pembuatan keris,” ujarnya.

Bagi Sisil, setiap keris menyimpan filosofi, harapan, dan doa. Nilai-nilai itu jugalah yang memantapkan dirinya menjadi penerus tradisi keluarga.

Di sisi lain, Sisil juga melihat menjadi empu adalah sumber penghasilan yang menjanjikan. Keris bisa memiliki harga yang fantastis, tergantung kelasnya. Sisil mengaku pernah menjual keris seharga Rp20 juta.

Keris yang digarap para empu di Desa Aeng Tongtong terdiri dalam tiga kelas, yakin kelas suvenir— yang harganya paling rendah—kelas menengah, serta kelas tertinggi. Kelas teratas ini mencakup keris pusaka atau ageman.

Nilai untuk keris kelas tertinggi bisa mencapai ratusan juta. Keris pusaka menjadi mahal karena kualitas dan ketelatenan empu pembuatnya, serta biasanya diyakini punya unsur klenik dan memberi tuah atau magis kepada pemiliknya.

Ayah Sisil, Abdus Siddik, menjadi orang pertama yang membimbing Sisil ketika mulai serius belajar membuat keris pada 2022. Meski tumbuh di lingkungan empu, Sisil mengaku baru benar-benar mempelajari proses pembuatan keris bersama ayahnya.

“Segala pertanyaan, teori, pengerjaan dan lain-lain justru lebih mudah daripada saya harus belajar ke orang lain,” katanya.

Abdus Siddik mengaku bangga melihat putrinya tertarik melanjutkan tradisi keluarga.

“Sebagai seorang ayah, saya merasa bangga dan juga gembira melihat anak perempuan saya bisa tertarik atau punya kesadaran diri untuk melanjutkan aktivitas pembuatan keris yang sudah menjadi warisan turun-temurun di keluarga kami,” ujarnya.

Menjadi empu bukan perkara mudah. Sisil harus memahami bentuk atau dhapur keris, memilih logam yang tepat, hingga menguasai berbagai tahapan produksi, mulai dari penempaan, pembentukan bilah, penghalusan, hingga proses pewarangan untuk memunculkan pamor.

Proses pembuatan keris juga membutuhkan waktu yang tidak singkat, bisa berbulan-bulan tergantung jenis dan tingkat kesulitannya.

Selain keterampilan teknis, ada satu hal yang menurutnya sama pentingnya, yaitu memahami makna yang terkandung dalam keris itu sendiri.

Setiap dhapur dan pamor memiliki filosofi berbeda. Dhapur merujuk pada bentuk dan desain bilah keris, sementara pamor adalah pola hiasan pada bilah yang terbentuk dari perpaduan berbagai jenis logam.

Pamor junjung drajat, misalnya, dipercaya mengandung doa dan harapan agar pemiliknya memperoleh peningkatan martabat, baik dalam kehidupan sosial maupun spiritual.

“Secara filosofi junjung drajat itu kan pamor yang terkandung sebuah doa atau harapan di dalam pamor itu bagaimana kita menaikkan derajat kita sebagai manusia di hadapan manusia atau di hadapan Tuhan,” kata Sisil.

Tahap yang paling berat adalah penempaan. Proses ini membutuhkan tenaga fisik yang cukup besar. Sebagai empu perempuan, Sisil mengakui ada keterbatasan fisik dibanding sebagian rekan laki-lakinya. Namun hal itu tidak menjadi hambatan berarti karena para empu di Aeng Tongtong saling membantu.

Sisil mengaku tidak pernah mengalami stereotip negatif atau perlakuan merendahkan karena menjadi perempuan di dunia pembuatan keris.

“Bagi saya ini adalah soal pilihan ya, jadi pilihan bagaimana kita bisa terus melestarikan dan mengemban amanah leluhur untuk bisa melestarikan keris,” katanya.

Menurut budayawan Sumenep M. Hairil Anwar, kehadiran generasi muda seperti Sisil menjadi bagian penting dari keberlanjutan tradisi di Aeng Tongtong.

“Terlebih ketika empu tersebut perempuan, akan menjadi semakin menarik karena menunjukkan bahwa dalam dunia perkerisan tidak ada model patriarki,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Ketua Pengelola Desa Wisata Keris Aeng Tongtong, Wawan Noviyanto. Menurutnya, interaksi antara empu laki-laki dan perempuan berlangsung setara dan saling melengkapi.

“Dinamika empu laki-laki dan perempuan itu berjalan sangat dinamis kalau di desa ini. Justru keberadaan mereka itu saling mengisi,” kata Wawan.

Pernyataan itu sejalan dengan pengalaman Sisil, selama hampir lima tahun menekuni dunia perkerisan. Ia melihat pekerjaannya lebih dari sekadar profesi.

Baginya, keris adalah warisan pengetahuan yang menghubungkan generasi masa kini dengan para pendahulunya.

Karena itu, ia berharap semakin banyak anak muda, termasuk perempuan, mau mengenal keris lebih dekat dan memahami nilai yang terkandung di dalamnya.

“Kita harus memahami dulu, dan cinta dulu sama keris, baru kita terjun ke dunia keris,” katanya.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.