Koma.id, JAKARTA — Ketua Dewan Direktur Great Institute Syahganda Nainggolan menyoroti pemeriksaan terhadap rekening Bank Mandiri milik koordinator aksi warga Pati, Supriyono alias Mas Botok, oleh aparat.
Menurut Syahganda, rekening tersebut sempat mengalami pembatasan transaksi sebelum kembali diaktifkan sehari menjelang demonstrasi warga Pati di Jakarta pada 27 Agustus 2026.
Menhan Sjafrie: Masyarakat Harus Gotong Royong Tangani Karhutla, Tak Bisa Hanya Andalkan Pemerintah
Syahganda menilai pemeriksaan rekening tersebut turut memengaruhi proses penggalangan dana dan mobilisasi massa dalam aksi tersebut. Ia menyebut kondisi itu membuat sebagian donatur khawatir.
“Kalau yang saya lihat di publik walaupun dia kontroversi itu soal pemeriksaan rekening Botok ini, itu memang mengagetkan buat para donatur,” ujar Syahganda dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Senin (31/8).
Syahganda membandingkan pola penggalangan dana aksi pada 2025 dengan aksi tahun ini. Menurut dia, penggalangan dana sebelumnya lebih banyak memanfaatkan platform digital, sedangkan kali ini dana dihimpun secara konvensional melalui rekening pribadi.
Ia menilai penggunaan rekening pribadi membuat para donatur merasa lebih mudah teridentifikasi sehingga muncul kekhawatiran untuk memberikan dukungan.
“Ketika logistiknya dihancurkan kemungkinan mobilisasi dengan bus-bus, kan busnya mewah itu yang datang ya saya demonstran loh. Itu pasti ada yang bayarinlah yang ngasih ini gitu loh. Enggak bisa nggak ada bohir gitu loh,” kata Syahganda.
Sementara itu, Polda Metro Jaya sebelumnya menegaskan bahwa tindakan terhadap rekening tersebut bukan merupakan pemblokiran permanen.
Pembatasan transaksi disebut dilakukan selama lima hari kerja untuk mengklarifikasi legalitas penggalangan dana yang menggunakan rekening perorangan, bukan rekening badan usaha resmi.
Pembatasan transaksi berlangsung pada 21–22 Agustus 2026. Rekening tersebut disebut menampung dana pribadi dan donasi masyarakat sekitar Rp80,9 juta yang rencananya digunakan untuk kebutuhan operasional serta penyewaan bus massa dari Pati menuju Jakarta.
Akses rekening kemudian kembali dibuka pada Rabu (26/8), sehari sebelum demonstrasi berlangsung. Pembukaan kembali akses tersebut dilakukan dalam rangkaian rapat bersama Komisi III DPR RI dan Polda Metro Jaya.
Bank Mandiri juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami terkait pembatasan transaksi rekening tersebut.
Dengan demikian, polemik rekening Supriyono menjadi salah satu isu yang turut mendapat perhatian dalam rangkaian aksi warga Pati di Jakarta. Di satu sisi, Syahganda menilai pemeriksaan rekening dapat memengaruhi kepercayaan donatur dan mobilisasi massa. Sementara dari sisi aparat, pembatasan transaksi disebut dilakukan untuk kepentingan klarifikasi legalitas penggalangan dana dan bukan pemblokiran permanen.














