Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Ekonomi

Kenaikan Harga BBM Pertamax Hancurkan Purchasing Power Kaum Middle Income Trap

Views
×

Kenaikan Harga BBM Pertamax Hancurkan Purchasing Power Kaum Middle Income Trap

Sebarkan artikel ini
Pertamax 16250 Per Liter
Suasana SPBU Pertamina di Jakarta, Rabu (10/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

KOMA.ID, JAKARTA – Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Budi Sulistyono Kanang menilai bahwa kenaikan harga BBM non-subsidi, Pertamax Cs di tengah pelemahan rupiah berpotensi menekan purchasing power atau daya beli kelas menengah alias kaum middle income trap di Indonesia.

Menurutnya, kelompok ini menjadi salah satu pihak yang paling rentan karena tidak mendapatkan perlindungan seperti subsidi atau operasi pasar yang umumnya menyasar masyarakat berpenghasilan rendah.

Silakan gulirkan ke bawah

“Kelas menengah ini yang pasti berdampak. Kalau kelas menengah ke bawah masih ada subsidi, operasi pasar, dan lain sebagainya. Kelas menengah tidak mungkin mendapatkan itu,” ujar Kanang di Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2026).

Budi mengatakan, dampak pelemahan rupiah tidak bisa dipandang ringan. Ia menilai pergerakan kurs yang terus melemah dan penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) telah menambah tekanan ekonomi rumah tangga, termasuk melalui kenaikan harga barang konsumsi sehari-hari.

“Dampak daripada dolar yang membumbung tinggi, IHSG yang merosot, ini juga menjadi beban rakyat. Kenyataannya akibat pelemahan rupiah, beberapa kebutuhan konsumsi harian masyarakat juga meningkat,” katanya.

Ia memperingatkan bahwa jika tekanan biaya hidup terus meningkat sementara perlindungan sosial tidak menjangkau kelompok menengah, maka sebagian masyarakat berisiko turun kelas secara ekonomi. “Kelas menengah ini akan banyak yang turun menjadi tidak mampu. Dan kalau sudah turun, naik lagi itu susah. Ini yang harus hati-hati,” tegas Kanang.

Menurut Budi, pemerintah perlu melihat persoalan ini secara lebih menyeluruh, tidak hanya dari sisi stabilitas makro, tetapi juga dari dampaknya terhadap kemampuan belanja rumah tangga. Ia menilai komunikasi kebijakan terkait penyesuaian harga BBM non-subsidi juga perlu diperbaiki agar DPR dan publik mendapatkan penjelasan yang memadai mengenai alasan dan konsekuensi kebijakan tersebut.

Budi menambahkan, pemerintah perlu menjaga agar tekanan biaya hidup tidak semakin menggerus konsumsi masyarakat. Menurutnya, konsumsi rumah tangga merupakan salah satu penopang penting pertumbuhan ekonomi nasional, sehingga perlindungan terhadap daya beli kelompok menengah perlu menjadi bagian dari strategi stabilisasi ekonomi ke depan.

“Kita harus menjaga agar daya beli tidak terus tergerus. Kalau konsumsi rumah tangga melemah, dampaknya akan menjalar ke banyak sektor,” pungkasnya.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.