KOMA.ID, JAKARTA – Kepala Divisi Impunitas KontraS, Jane Rosalina menyampaikan apresiasi dan terima masih atas perhatian luar biasa dari semua kalangan, atas kasus penyiraman air keras kepada Wakil Koordinator Eksternal KontraS, Andrie Yunus.
“KontraS menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dan solidaritas kepada rekan kami, Andrie Yunus, yang saat ini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat serangan air keras,” kata Jane saat melakukan konferensi pers di LBH Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (16/3/2026).
Fernando Emas: Jangan Hanya MBG, Prabowo Juga Punya Janji 3 Juta Rumah dan 19 Juta Lapangan Kerja
Ia menandang bahwa dukungan tersebut sangat berarti bagi KontraS, terlebih menjelang 28 tahun berdirinya lembaga advokasi non profit tersebut pada 20 Maret 2026.
Ferry Koto Ingatkan Prabowo Tak Tuding Mahasiswa Ditunggangi: Kekuasaan Hanya Mandat dari Rakyat
“Hal ini menunjukkan bahwa kerja-kerja KontraS dalam memperjuangkan hak asasi manusia tidak berjalan sendiri, melainkan didukung oleh masyarakat sipil yang terus bersolidaritas dalam mengungkap berbagai bentuk kekerasan dan penyalahgunaan kekuasaan,” ujarnya.
Terkait dengan kondisi Andrie Yunus, ia mengatakan bahwa proses pemulihan masih berlangsung, serta kondisinya memang semakin membaik. Namun ia menyarankan agar tidak perlu ada banyak pihak melakukan pembesukan demi kepentingan optimalisasi pemulihan kesehatan karena luka bakar 24 persen, gegara cairan asam yang disiramkan pada tubuh Andrie pada Kamis, 12 Maret 2026 malam di kawasan Salemba, Jakarta Pusat.
Mahfud MD Tak Setuju MBG Dihentikan, Tapi …
Beberapa bagian tubuh Andrie Yunus yang terluka akibat cairan asam tersebut adalah bagian wajah sebelah kanan, mata kanan, kedua tangan, serta dada. Luka paling serius terjadi pada mata kanan, yang saat ini mendapatkan penanganan khusus dari dokter spesialis bedah mata.
“Mengingat tingkat keparahan luka, korban memerlukan perawatan intensif dalam kondisi steril agar proses pemulihan berjalan optimal,” tandasnya.
“Oleh karena itu, kami meminta publik menghormati proses perawatan medis yang sedang berlangsung serta memberikan ruang bagi keluarga untuk mendampingi korban selama masa pengobatan dan pemulihan,” sambung Jane.
Alih-alih melakukan dukungan moril dengan menjenguk, Jane memohon agar dukungan itu dilakukan dengan mengawal maksimal proses penanganan perkara tersebut sampai tuntas.
“Bentuk dukungan yang paling penting saat ini adalah mengawal proses penegakan hukum agar berjalan secara serius, imparsial, dan transparan, serta memastikan pengungkapan seluruh pelaku, baik pelaku lapangan maupun aktor intelektual di balik serangan tersebut,” tegasnya.
Lebih lanjut, Jane menyampaikan bahwa KontraS berpendapat jika serangan ini memiliki indikasi kuat sebagai tindakan yang direncanakan dan dilakukan secara terorganisir, karena pelaku menyiramkan cairan kimia berbahaya secara langsung ke bagian tubuh vital korban, termasuk wajah dan area pernapasan.
“Oleh karena itu, kami memandang peristiwa ini sebagai dugaan kuat percobaan pembunuhan berencana yang harus diusut secara menyeluruh oleh aparat penegak hukum,” papar Jane.
Di samping itu, ia nuga memandang adanya keterkaitan antara serangan ini dengan kerja-kerja Andrie Yunus sebagai pembela HAM dan advokat publik di KontraS, yang selama ini terlibat dalam berbagai advokasi kasus pelanggaran HAM, kritik terhadap penyalahgunaan kekuasaan, serta isu-isu publik lainnya, termasuk advokasi terkait pembahasan revisi UU TNI dan sejumlah perkara strategis lainnya.
Maka dari itu, tidak berlebihab jika KontaS pada kesimpulannya mencatat jika kasus Andrie tidak hanya menyerang personal, namun nilai yakni perlindungan sipil ean supremasi hukum di Indonesia.
“Serangan ini tidak hanya menyerang Andrie Yunus sebagai individu, tetapi juga merupakan serangan terhadap masyarakat sipil dan pembela HAM secara luas,” tekannya.
Tindakan tersebut juga dinilai berpotensi menjadi bagian dari pola intimidasi yang bertujuan menimbulkan ketakutan bagi pihak-pihak yang bersuara kritis. Oleh karena itu, KontraS mendesak kepolisian untuk mengungkap seluruh pihak yang terlibat serta memastikan pemulihan menyeluruh bagi korban, termasuk perawatan medis, rehabilitasi, dan jaminan agar peristiwa serupa tidak terulang.
“Dalam momentum 28 tahun KontraS ini, kami menegaskan bahwa serangan semacam ini tidak akan membuat kami takut atau berhenti, dan KontraS akan terus bersuara serta melanjutkan kerja-kerja pembelaan hak asasi manusia,” pungkasnya.













