Koma.id — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi wabah penyakit menular yang muncul pascabanjir bandang dan tanah longsor di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Fokus utama perhatian ditujukan pada penyakit campak, yang dianggap dapat menyebar dengan cepat di lokasi pengungsian yang padat.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemantauan dilakukan setiap hari melalui sistem pelaporan yang terintegrasi, yang menjadi dasar penyesuaian distribusi obat, tenaga medis, dan strategi penanggulangan. Penyakit yang paling sering ditemukan di lokasi pengungsian meliputi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit, dan diare.
“Penyakit menular yang kami amati dengan sangat dekat itu yang paling kami khawatirkan adalah campak,” ujar Menkes Budi dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Risiko Penyakit Menular di Pengungsian
Campak memiliki tingkat penularan yang sangat cepat, bahkan lebih tinggi daripada banyak penyakit menular lain, sehingga berpotensi menimbulkan wabah di lingkungan dengan mobilitas tinggi seperti lokasi pengungsian. Mengutip data kasus luar biasa campak di wilayah lain sebelumnya, satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus kepada puluhan orang lain jika belum divaksinasi lengkap.
Epidemiolog Bilang Hantavirus Tak Semasif Covid-19, Lebih Sulit Jadi Pandemi, Begini Alasannya
Selain campak, Kemenkes juga mencatat potensi penyebaran penyakit lain pascabanjir, termasuk tuberkulosis (TBC) dan leptospirosis akibat kontak dengan air yang terkontaminasi.
Untuk mencegah timbulnya kasus yang lebih luas, pemerintah telah memulai program imunisasi khusus sejak awal Januari di wilayah yang telah teridentifikasi memiliki risiko tinggi. Imunisasi ini difokuskan terutama pada anak-anak di lokasi pengungsian dan daerah dengan populasi rentan.
Langkah Kemenkes
Kemenkes mendorong layanan imunisasi rutin tetap berjalan meskipun dalam situasi darurat, termasuk membuka pos imunisasi darurat jika fasilitas kesehatan mengalami kerusakan. Pelaksanaan imunisasi tambahan atau crash program juga disiapkan di wilayah yang cakupan vaksinasinya rendah.
Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, drg. Murti Utami, menekankan bahwa surveilans penyakit menular harus diperkuat di lokasi pengungsian dan fasilitas pelayanan kesehatan lain. Surveilans aktif mencakup upaya penemuan kasus, penelusuran kontak, serta analisis tren kasus harian untuk menentukan respons kesehatan masyarakat yang tepat.
“Kita harus memastikan deteksi dini dan respons cepat agar tidak terjadi kejadian luar biasa, terutama dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi,” kata drg. Murti.
Masyarakat juga diminta meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti mencuci tangan, menjaga etika batuk, serta segera melapor ke tenaga kesehatan apabila muncul gejala penyakit menular.
Ancaman Penyakit Pascabencana Lainnya
Selain campak, kondisi lingkungan pascabanjir (termasuk kurangnya sanitasi dan air bersih serta kepadatan pengungsian) dapat memicu peningkatan kasus penyakit lain seperti ISPA, diare, TBC, leptospirosis, dan penyakit berbasis lingkungan.
Tim kesehatan terus memantau kondisi tersebut untuk mengambil tindakan medis dan pencegahan yang tepat.












