Koma.id | Washington, D.C. – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan kritik tajam terhadap media, kali ini menyerukan pemecatan jurnalis CNN dan The New York Times atas laporan yang meragukan efektivitas serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyebut para jurnalis tersebut sebagai “orang jahat dengan niat buruk” dan menuntut agar mereka “segera dipecat”. Pernyataan ini muncul setelah CNN dan The New York Times menerbitkan laporan berdasarkan dokumen intelijen rahasia dari Badan Intelijen Pertahanan (DIA) yang menyebutkan bahwa serangan AS hanya menyebabkan kerusakan terbatas pada fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan2.
Laporan tersebut bertentangan dengan klaim Trump yang sebelumnya menyatakan bahwa “fasilitas pengayaan nuklir terpenting Iran telah sepenuhnya dihancurkan.” Menurut penilaian awal intelijen, sebagian besar uranium yang diperkaya telah dipindahkan sebelum serangan, dan kerusakan terhadap infrastruktur bawah tanah dinilai minimal.
Prabowo dan Presiden Jerman Sepakat Perkuat Kerja Sama Strategis di Sektor Ekonomi hingga Energi
CNN membela jurnalisnya, Natasha Bertrand, yang menjadi sasaran utama kritik Trump. Dalam pernyataan resminya, CNN menyatakan mendukung penuh pelaporan Bertrand dan menegaskan bahwa publik berhak mengetahui isi penilaian intelijen tersebut.
Sementara itu, Pentagon dan FBI telah meluncurkan penyelidikan untuk mengungkap sumber kebocoran dokumen rahasia tersebut. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyebut informasi itu seharusnya hanya untuk konsumsi internal dan menuduh media berusaha “membuat presiden tampak buruk”.
Seruan Trump untuk memecat jurnalis memicu kekhawatiran di kalangan pengamat kebebasan pers. Praktik semacam itu dinilai tidak lazim dalam sistem demokrasi dan dapat mengancam independensi media.
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari The New York Times terkait pernyataan Trump. Penyelidikan atas kebocoran dokumen masih berlangsung.







