Koma.id – Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas mengatakan menggunakan politik identitas agama untuk kepentingan sempit politi merupakan pengkhianatan kepada para pendiri bangsa.
“Saya menyampaikan ketika itu (politik identitas/politiasasi agama) dipakai, saya menganggap itu sebagai pengkhianat terhadap pendiri bangsa,” kata Fernando Emas dalam podcast Koma ‘Politik Identitas di Pemilu 2024 Diharamkan?’, Rabu (5/4/2023).
Menurut dia, para pendiri bangsa mendirikan bangsa Indonesia agar bersatu tanpa mempersoalkan perbedaan agama, suku dan latar belakang apapun.
Dikatakan Fernando, tanpa adanya kesatuan dari para pendiri bangsa dengan mengesampingkan suku, agama, maka negara ini tidak akan terbentuk.
“Mereka berbicara bagaimana Indonesia bisa merdeka, bisa terbentuk, bisa mewujudkan negara yang adil dan makmur,” ujar Fernando.
“Jadi jangan kita kembali berbicara mundur. Makanya sesuatu yang sudah diputuskan oleh par apendiri bangsa tapi kita khianati dengan mengungkit-ungkit lagi tentnang persoalan-persoalan agama uintuk kepentigan tujuan politik,” jelasnya.
Ditambahkan alumni Universitas Indonesia ini, jika belajar dari tahun politik 2017 dan 2019, sampai sekarangkan masih ada gesekan-gesekan yang masih terjadi, sampai sekarang masih ada istilah cebong dan kadrun dan ini pun belum selesai.
“Bagaimana lagi nanti kalau kita mainkan politik identitas agama di Pemilu 2024, ada yang coba memaikan itu, semakin rusaklah negara ini,” paprnya.
“Bagaimana pemimpin yang terpilih di 2024 nanti akan memimpin negara ini dengan tenang kalau nanti rakyat kita tidak bersatu saling bermusuhan, sedikit-sedikit nanti akan tercipta konflik hanya karena politik identitas agama,” tukasnya.










