Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Polhukam

Agenda Reformasi Jilid II Dinilai Salah Kaprah, Sandri Sebut Kenaikan Harga BBM Lebih Baik Asal Rupiah dan IHSG Menguat

Views
×

Agenda Reformasi Jilid II Dinilai Salah Kaprah, Sandri Sebut Kenaikan Harga BBM Lebih Baik Asal Rupiah dan IHSG Menguat

Sebarkan artikel ini
Img 20260612 Wa0009

KOMA.ID, JAKARTA – Founder Kontra Narasi, Sandri Rumanama, menilai isu demonstrasi besar-besaran yang mengusung narasi reformasi jilid II merupakan bentuk kekeliruan dalam membaca persoalan ekonomi nasional dan dinamika geoekonomi global yang tengah dihadapi Indonesia.

Sandri mengatakan bahwa masyarakat perlu memahami langkah-langkah yang sedang ditempuh pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi dan kedaulatan negara di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.

Silakan gulirkan ke bawah

Menurutnya, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak seharusnya langsung dipandang negatif apabila berdampak pada penguatan fundamental ekonomi nasional.

“Gak apa apa harga BBM naik, asal subsidi BBM tepat sasaran ada penghematan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kita menguat di pasar saham dan kurs mata uang kita menguat,” ujar Sandri dalam keterangannya, Jumat (12/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga BBM dapat membantu mengurangi beban subsidi pemerintah sehingga memberikan ruang fiskal yang lebih sehat bagi APBN. Selain itu, kebijakan tersebut dinilai dapat menekan konsumsi energi yang berlebihan.

Di sisi lain, Sandri menilai penguatan nilai tukar rupiah akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional karena biaya impor bahan baku menjadi lebih murah, inflasi dapat ditekan, dan daya beli masyarakat berpotensi meningkat.

“Kenaikan harga BBM menyelamatkan APBN dengan mengurangi beban subsidi dan menekan konsumsi energi. Di sisi lain, menguatnya nilai tukar rupiah membuat biaya impor bahan baku lebih murah, menekan inflasi, dan meningkatkan daya beli riil masyarakat secara keseluruhan,” jelasnya.

Sandri menambahkan bahwa dari perspektif makroekonomi dan fiskal, kebijakan yang mampu menjaga stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan akan memberikan manfaat jangka panjang bagi perekonomian nasional.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pandangannya bukan bentuk dukungan tanpa kritik terhadap pemerintah, melainkan didasarkan pada kepentingan menjaga stabilitas ekonomi Indonesia.

“Saya bukan penjilat pemerintah, tapi jujur saya gak suka pasar saham kita disikat habis-habisan, mata uang kita terus melemah, dan disaat itu langkah pemerintah menaikan harga BBM adalah langkah tepat,” tegasnya.

Sandri juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh narasi-narasi yang menurutnya tidak mempertimbangkan kondisi ekonomi global secara utuh, terutama ketika pemerintah tengah berupaya menjaga stabilitas fiskal, nilai tukar rupiah, dan kepercayaan pasar terhadap Indonesia.

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah pada Jumat (12/6/2026) tercatat berada di level Rp17.873,80 per dolar Amerika Serikat.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.