Koma.id, JAKARTA – Pengamat geopolitik sekaligus wartawan senior, Hendrajit, mempertanyakan kembali munculnya wacana Reformasi Jilid II yang belakangan mengemuka di ruang publik. Menurutnya, sebelum berbicara mengenai reformasi lanjutan, perlu dilakukan evaluasi mendasar terhadap perjalanan dan hasil Reformasi 1998.
Dalam keterangannya, Jumat (12/6/2026), Hendrajit mengaku penasaran dengan alasan munculnya gagasan Reformasi Jilid II. Ia menilai perlu ada penjelasan yang sederhana dan mudah dipahami masyarakat mengenai apa yang sebenarnya dianggap keliru dari Reformasi Jilid I.
“Terus terang kalau belakangan ini bergulir wacana Reformasi Jilid II, saya jadi penasaran apa yang salah dari Reformasi Jilid I. Dan bagaimana membahasakannya secara sederhana sehingga orang awam nyambung,” ujarnya.
Hendrajit kemudian mengibaratkan para eksponen Reformasi 1998 sebagai sosok Daud yang berhadapan dengan Goliat. Namun, menurutnya, persoalan utama terletak pada siapa sebenarnya pihak yang menjadi lawan dalam pertarungan politik saat itu.
Ia menilai lengsernya Presiden Soeharto pada 1998 merupakan sebuah keniscayaan sejarah yang telah diperkirakan banyak kalangan jauh sebelumnya. Namun di balik peristiwa tersebut, menurutnya terdapat kekuatan yang tidak terlihat yang turut memainkan peran penting.
“Tragedinya adalah, ada struktur kekuasaan tersembunyi dan tak kasat mata berupa konglomerasi multinasional yang didukung negara-negara besar yang diam-diam sedang menumbalkan Soeharto sebagai Goliat yang tampak muka dan harus dihantam,” kata Hendrajit.
Menurutnya, ketika perhatian publik tertuju pada figur yang terlihat di panggung kekuasaan, terdapat kekuatan lain yang bekerja di balik layar dan tidak banyak disadari.
Ia mengibaratkan bahwa setelah “Goliat yang tampak” berhasil dijatuhkan, muncul kekuatan baru yang mengambil alih panggung dengan pola, metode, dan arsitektur kekuasaan yang berbeda. Dalam pandangannya, para pelaku reformasi saat itu menganggap telah memenangkan sebuah revolusi, namun arah perubahan kemudian bergeser menjadi reformasi yang tidak sepenuhnya sesuai dengan cita-cita awal.
Hendrajit juga menilai reformasi gagal membangun persekutuan strategis antara negara dengan berbagai kekuatan sosial yang selama masa Orde Baru berada di pinggiran kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan budaya.
Menurutnya, negara seharusnya menjadi mitra bagi kekuatan-kekuatan pembebasan nasional. Namun yang terjadi justru pelemahan berbagai instrumen yang semestinya dapat digunakan untuk memberdayakan rakyat.
“Bahkan akhirnya, Daud yang menyangka Goliat sudah mati, dengan senang hati melumpuhkan sarana-sarana pembebasan rakyat yang ironisnya justru dengan menggunakan demokrasi,” ujarnya.
Atas dasar itu, Hendrajit meminta para tokoh reformasi untuk melakukan introspeksi terhadap perjalanan reformasi selama hampir tiga dekade terakhir sebelum menggulirkan gagasan Reformasi Jilid II.
Ia mempertanyakan mengapa gerakan yang pada awalnya memiliki semangat perubahan besar justru berbelok menjadi reformasi yang menurutnya belum mampu menjawab berbagai persoalan mendasar bangsa.
“Kenapa yang semula mau menggulingkan Soeharto atas dasar skema revolusi kok berbelok jadi reformasi?” tanyanya.
Lebih jauh, Hendrajit bahkan menyebut para pelaku reformasi perlu berani mengakui kemungkinan telah terjebak dalam skenario yang tidak mereka sadari saat itu.
Di akhir pernyataannya, ia kembali mempertanyakan arah dan tujuan Reformasi Jilid II yang kini mulai didorong sejumlah kalangan. Menurutnya, publik perlu mendapatkan kejelasan apakah reformasi lanjutan tersebut dimaksudkan untuk mengoreksi berbagai kekurangan Reformasi 1998 atau justru melanjutkan pola yang sama.
“Pertanyaan pentingnya, apakah Reformasi Jilid II untuk mengoreksi dan melakukan pertobatan atas kesalahan masa lalu? Atau justru ingin melanjutkan kembali skema Reformasi Jilid I yang sekarang lagi semrawut dan sekarat?” ujar Hendrajit.
Ia menegaskan bahwa perdebatan mengenai Reformasi Jilid II semestinya tidak hanya berhenti pada slogan politik, melainkan harus disertai evaluasi menyeluruh terhadap capaian dan kekurangan reformasi yang telah berjalan selama hampir 30 tahun terakhir.













