HOLOPIS.COM, JAKARTA – Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Kerakyatan merasa dibungkam saat melakukan aksi unjuk rasa solidaritas untuk Andrie Yunus di kawasan Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur.
“Kami BEM SI Kerakyatan ingin melaporkan kepada seluruh masyarakat Indonesia, bahwa aksi simbolik yang kami lakukan hari ini di depan Mabes TNI mendapatkan intimidasi dan kecaman,” tulis BEM SI kepemimpinan Muhammad Ikram, dalam keterangan tertulis mereka, Jumat (27/3/2026).
Dalam aksi yang terjadi pada hari Kamis, 19 Maret 2026 tersebut, mereka mengaku tidak memiliki kesempatan untuk menyampaikan secara langsung apa yang menjadi tuntutan mereka di Mabes TNI.
“Kami dihadang dan tidak diberikan ruang untuk menyampaikan aspirasi secara langsung. Bahkan, kami menghadapi tindakan penghalangan oleh oknum tak berseragam yang justru mencederai prinsip demokrasi dan kebebasan berekspresi,” terang mereka.
Pembungkaman aksi unjuk rasa tersebut menurut BEM SI Kerakyatan menjadi bagian dari catatan buruk bagi iklim demokrasi di Indonesia.
“Peristiwa ini bukan hanya soal kami sebagai mahasiswa, tetapi menjadi alarm keras bagi seluruh masyarakat sipil bahwa ruang demokrasi sedang tidak baik-baik saja,” jelas mereka.
Bagi BEM SI, ketika suara kritis dibungkam, ketika aksi damai dihalangi, maka yang terancam bukan hanya gerakan mahasiswa, tetapi masa depan kebebasan rakyat itu sendiri.
“Kami juga menyoroti kejadian penyiraman air keras yang menjadi bentuk nyata teror terhadap masyarakat yang berani bersuara,” sambung mereka.
Sebagai catatan penting, apa yang dialami oleh aktivis HAM dan demokrasi, Andrie Yunus adalah catatan kelam dan menjadi borok yang sangat buruk bagi institusi TNI. Hal ini karena terungkap, eksekutor penyiraman air keras kepada Andrie Yunus adalah 4 prajurit TNI aktif, dari matra TNI AL dan TNI AU, bahkan menjadi BKO di Badan Intelijen Strategis (BAIS).
“Tindakan tersebut adalah kejahatan kemanusiaan yang tidak boleh dinormalisasi, apalagi dijadikan alat untuk membungkam kritik. Rasa takut tidak boleh diwariskan kepada rakyat. Negara harus hadir melindungi, bukan membiarkan intimidasi terjadi,” tegas BEM SI Kerakyatan.
Atas dasar itu, BEM SI pun mendesak kepada seluruh stakeholders bangsa Indonesia untuk ikut bersuara dan menyampaikan protes secara kolektif, agar TNI tidak lagi menjadi alat pembungkam demokrasi.
“Kami menyerukan kepada seluruh masyarakat sipil, mahasiswa, buruh, perempuan, dan seluruh elemen rakyat Indonesia: jangan takut untuk bersuara. Ketakutan adalah alat mereka, keberanian adalah senjata kita. Demokrasi tidak akan hidup jika rakyatnya diam,” tandas mereka.
Terakhir, BEM SI Kerakyatan pun menyatakan bahwa perjuangan untuk kebenaran tidak akan berhenti sekalipun ada upaya intimidasi dan pembungkaman dari pihak manapun.
“Perjuangan ini belum selesai. Kami akan terus hadir, terus bersuara, dan terus melawan segala bentuk ketidakadilan,” pungkas BEM SI Kerakyatan.













