Koma.id – Ancaman resesi dinilai mulai membayangi perekonomian Indonesia pada kuartal II 2026 di tengah lonjakan harga minyak dunia dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai gejolak global akibat konflik di Timur Tengah berpotensi memicu kenaikan harga energi sekaligus mengguncang pasar keuangan domestik.
Menurut Bhima, tekanan tersebut sudah mulai terlihat dari sejumlah indikator ekonomi dalam beberapa waktu terakhir. Harga minyak dunia tercatat telah menembus 100 dolar AS per barel, sementara nilai tukar rupiah sempat melemah hingga Rp17.000 per dolar AS. Di saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami koreksi sekitar 3,27 persen hingga berada di level 7.337.
Indonesia-China Sepakat Perkuat Transaksi Mata Uang Lokal, Kurangi Ketergantungan pada Dolar AS
Ia menjelaskan, lonjakan harga minyak dan pelemahan pasar keuangan dapat berdampak langsung pada kondisi ekonomi domestik, terutama melalui tekanan inflasi yang pada akhirnya menggerus daya beli masyarakat.
“Setelah minyak naik dan IHSG anjlok, maka inflasi akan melemahkan konsumsi rumah tangga. End game-nya memang resesi di kuartal II 2026,” kata Bhima.
Sejumlah Titik di Jakarta Gelap Sabtu Malam
Bhima menambahkan, pelemahan nilai tukar rupiah juga berpotensi meningkatkan biaya hidup masyarakat karena harga berbagai barang dan jasa ikut terdorong naik.
Kondisi tersebut, menurutnya, dapat memicu fenomena cost of living crisis di Indonesia jika tekanan ekonomi global terus berlanjut.
Meski demikian, pemerintah menilai kondisi ekonomi nasional masih relatif stabil. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan perekonomian Indonesia saat ini belum menunjukkan tanda-tanda menuju krisis maupun resesi.
“Jangankan krisis, resesi saja belum. Melambat saja belum. Kita masih ekspansi, masih akselerasi,” ujar Purbaya.













