KOMA.ID, JAWA TENGAH – Hari pertama rangkaian kegiatan dialog dan diskusi di Boyolali diisi dengan dua sesi utama, yaitu bedah buku JI: The Untold Story dan diskusi Wasathiyah.
Kegiatan yang digelar di Pondok Pesantren Darusy Syahadah, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali Jawa Tengah ini menghadirkan akademisi, tokoh agama, serta perwakilan aparat penegak hukum untuk membahas dinamika Jamaah Islamiyah (JI), proses transformasi, serta penguatan perspektif keislaman yang moderat dan kebangsaan.
Sesi pertama dibuka oleh moderator M. Syauqillah, yang menjelaskan bahwa diskusi ini bertujuan memahami Jamaah Islamiyah secara utuh dan objektif, tanpa pendekatan penghakiman. Buku JI: The Untold Story diposisikan sebagai upaya melihat perjalanan JI dari sudut pandang internal organisasi.
Paparan awal disampaikan oleh Ustaz Para, yang mengulas sejarah berdirinya Jamaah Islamiyah, cita-cita awal organisasi, serta berbagai fase transformasi yang dialami seiring perjalanan waktu. Ia menjelaskan bahwa dalam proses internal yang panjang, JI telah melakukan evaluasi mendalam dan meninggalkan penggunaan kekerasan sebagai metode perjuangan.
Selanjutnya, Kombes Pol. Choirul Anam menegaskan bahwa pembubaran Jamaah Islamiyah merupakan kabar baik bagi seluruh pihak, termasuk aparat keamanan. Menurutnya, pembubaran ini bukan sekadar mengakhiri dinamika kejar-kejaran antara aparat dan anggota JI, tetapi menjadi momentum penting bagi para anggotanya untuk kembali sepenuhnya dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ustaz Aslam kemudian menjelaskan bahwa bidang pendidikan dan dakwah dalam struktur JI tidak pernah terlibat dalam tindak kekerasan atau kasus terorisme. Namun, dinamika organisasi dan persepsi publik sering kali menyamaratakan seluruh elemen JI tanpa melihat fungsi masing-masing bidang secara proporsional.
Dalam sesi ini juga disinggung dinamika pasca pembubaran JI pada 30 Juni 2024, termasuk munculnya stigma terhadap eks anggota JI yang kerap dikaitkan dengan isu pelemahan ideologi atau perubahan manhaj. Diskusi menekankan pentingnya melihat proses transformasi ini secara objektif dan konstruktif.
Menutup sesi pertama, Kombes Pol. Choirul Anam menjelaskan bahwa buku JI: The Untold Story ditulis dengan tujuan utama untuk memahami, bukan menghakimi. Seluruh narasi dalam buku tersebut bersumber dari pengalaman dan refleksi internal JI, sehingga buku ini dapat dipandang sebagai dokumentasi kolektif perjalanan organisasi tersebut.
Sesi kedua dilanjutkan dengan diskusi Wasathiyah yang dimoderatori oleh Kombes Pol. Choirul Anam, dengan narasumber Ustaz Para, Dr. Rifki Muhammad Fatkhi, dan Dr. Najih Arromadloni.
Dr. Rifki membuka diskusi dengan penjelasan sistematis mengenai hadis-hadis Nabi Muhammad SAW terkait jihad, hijrah, dan cinta tanah air. Ia menegaskan bahwa pemahaman ajaran Islam secara komprehensif tidak mungkin berujung pada sikap memusuhi atau memerangi negeri sendiri. Ia juga menekankan pentingnya penggunaan berbagai disiplin ilmu dalam memahami teks-teks keagamaan.
Paparan dilanjutkan oleh Ustaz Para, yang menegaskan bahwa keputusan pembubaran Jamaah Islamiyah telah melalui proses panjang dan didasarkan pada pertimbangan syar’i yang matang.
Sementara itu, Dr. Najih menjelaskan bahwa istilah-istilah yang lazim digunakan dalam wacana jihad, seperti al-wala’ wal-bara’ dan qital, merupakan konsep keilmuan yang dikembangkan ulama dalam konteks tertentu. Oleh karena itu, istilah-istilah tersebut perlu dipahami dengan perangkat keilmuan yang lengkap dan tidak digunakan untuk membenarkan kekerasan. Ia juga mengkritik praktik sebagian kelompok radikal yang masih menggunakan dalil agama untuk melegitimasi tindakan kekerasan, padahal Islam secara tegas melarangnya.
Diskusi dan sesi tanya jawab pada sesi ini menampilkan berbagai pandangan kritis dari peserta, antara lain terkait demokrasi, penegakan syariat, muamalah, serta dinamika dan pergeseran penafsiran ayat dalam konteks sosial yang terus berubah.
Melalui dua sesi utama tersebut, hari pertama kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang dialog terbuka untuk memperkuat pemahaman keagamaan yang moderat, reflektif, dan selaras dengan nilai kebangsaan.
Giat ini adalah bagian dari roadmap pembubaran JI. Yang di tahun ini fokusnya adalah reintegrasi dan intervensi pesantren-pesantren eks afiliasi JI













