Koma.id | Wamena – Bentrokan antarsuku di Distrik Woma, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, menelan korban jiwa sebanyak 13 orang dan memaksa 789 warga mengungsi. Konflik horizontal ini melibatkan Suku Pirime (Lanny) dan Suku Kurima (Woma), dipicu persoalan denda adat buntut kecelakaan lalu lintas yang menewaskan anggota DPRD Lanny Jaya pada 2024 silam.
Kabid Humas Polda Papua, Kombes Cahyo Sukarnito, menjelaskan penyelesaian denda adat tidak pernah tuntas karena keterbatasan anggaran saat itu.
“Terjadilah perang suku mulai saat itu. Biasanya kecil-kecil, sampai puncaknya ini,” ujarnya, Senin (18/05).
Kapolda Papua Irjen Patrige R Renwarin menambahkan, mediasi terkait pembayaran denda adat mengalami kebuntuan hingga berujung aksi saling serang menggunakan senjata tajam dan panah.
Korban dan Dampak
- Korban jiwa: 13 orang meninggal dunia.
- Korban luka: 19 orang, termasuk 3 luka berat.
- Pengungsi: 789 jiwa, terdiri dari 298 anak-anak, 122 lansia, 315 pria, dan 476 wanita.
- Kerusakan: Sejumlah bangunan rusak dan terbakar, sementara jembatan gantung di Kali UE roboh saat dilintasi massa, menyebabkan puluhan warga hanyut.
Polda Papua menerjunkan 100 personel Brimob, ditambah aparat gabungan TNI-Polri dari Kodim dan Batalyon setempat. Pemerintah pusat juga mengutus Wamendagri Ribka Haluk untuk memimpin dialog bersama Gubernur Papua Pegunungan Jhon Tabo, Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang, serta tokoh masyarakat.
Cahyo menyebut situasi kini berangsur kondusif pasca dialog yang digelar Minggu (17/05). Aparat ditempatkan di tujuh titik untuk mencegah bentrokan susulan.
Rapat mitigasi penanganan konflik digelar bersama pemerintah daerah, termasuk Wakil Bupati Jayawijaya Ronny Elopere. Fokus utama adalah penyelesaian denda adat dan pemulihan keamanan agar konflik tidak meluas ke wilayah lain.







