Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Polhukam

Ngasiman Djoyonegoro Rilis Buku Polri Untuk Masyarakat

Views
×

Ngasiman Djoyonegoro Rilis Buku Polri Untuk Masyarakat

Sebarkan artikel ini
Ngasiman Tulis Buku Polri Untuk Masyarakat
Penulis Buku "Polri Untuk Masyarakat", Ngasiman Djoyonegoro.

KOMA.ID, JAKARTA – Tahun 2025 adalah penentu bagi perjalanan Polri. Pasalnya, pada tahun ini disusun Grand Strategy Polri 2025-2045 sebagai lanjutan Grand Strategy Polri 2005-2025. Dokumen penanda perjalanan Kepolisian Republik Indonesia ini menggambarkan bagaimana masa depan keamanan, ketertiban masyarakat dan penegakan hukum di masa lalu dan masa depan.

“Transformasi Polri selalu mengikuti perkembangan zaman dan relevan dengan agenda pembangunan yang dikembangkan oleh presiden terpilih pada setiap periodenya,” kata Ngasiman Djoyonegoro, penulis buku Polri untuk Masyarakat, Transformasi Polri Menuju Indonesia Emas 2045. Pria yang akrab dipanggil Simon ini menuturkan bahwa buku yang ditulisnya menandai 79 tahun perjalanan Korps Bhayangkara di NKRI ini, Senin (30/6/2025).

Silakan gulirkan ke bawah

Simon menuturkan bahwa pada perjalanan Polri dapat dilihat titik-titik transformasi Polri selalu muncul sebagai penanda perubahan pada setiap zaman. “Pada masa awal kemerdekaan, Polri masih berkutat pada penataan kelembagaan yang pada masa itu juga dialami oleh institusi lainnya,” kata Simon.

Titik perubahan signifikan Polri terjadi Pasca Reformasi 1998, dimana Polri didesain sebagai kelembagaan yang independen dan kewenangan yang cukup dalam hal pengamanan, ketertiban masyarakat dan penegakan hukum.

“Kita dapat lihat, setelah Polri diberikan kewenangan dan independensi kelembagaan, berbagai transformasi tumbuh dan berkembang. Misalnya, ada Pemolisian Masyarakat (Polmas) yang merupakan terjemahan dari community policing, kemudian Pemolisian Demokratis (Democratic Policing), dan terakhir, Pemolisian Elektronic (e-Policing),” jelas Simon.

Konsep-konsep besar ini perlu diterjemahkan dalam kerangka yang lebih operasional, dapat diukur, dinilai dan dievaluasi perkembangannya. “Oleh karena itu, adanya Grand Strategy Polri memudahkan untuk merealisasikan gagasan-gagasan besar dalam program dan kegiatan Polri,” kata Simon.

Simon juga mengapresiasi setiap Kapolri yang terpilih memiliki slogan untuk menyamakan persepsi dan menyatukan langkah. Awalnya, Polri menggunakan slogan “Rastra Sewakotama” yang berarti Abdi Utama bagi Nusa Bangsa. Kemudian Polri menggunakan slogan “Promoter” (Profesional, Modern, dan Terpercaya). Di era Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Polri menggunakan slogan “Presisi” (Prediktif, Responsibilitas, Transparansi, Berkeadilan).

“Apa yang sudah baik untuk Polri, saya kira perlu dilanjutkan. Namun yang harus diingat adalah orientasi masa datang atau wajah Polri seperti apa yang kita dambakan,” kata Simon.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.