Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
BeritaEkonomiNasional

Perajin Tempe Kurangi Ukuran Demi Pertahankan Harga

Views
×

Perajin Tempe Kurangi Ukuran Demi Pertahankan Harga

Sebarkan artikel ini
Tempe 2

Koma.id | Yogyakarta – Kenaikan harga kedelai impor akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai berdampak langsung pada perajin tempe di Yogyakarta. Alih-alih menaikkan harga jual, sejumlah perajin memilih memperkecil ukuran tempe agar tetap terjangkau bagi konsumen.

Toni Afandi, pemilik usaha Tempe Murni Ibu Nurcahyo di Warungboto, Umbulharjo, mengaku tidak berani menaikkan harga karena khawatir ditinggalkan pembeli.

Silakan gulirkan ke bawah

“Kalau dinaikkan, pembeli pasti tidak mau. Jadi akhirnya saya kurangi saja ukuran tempenya,” ujarnya, Jumat (15/05).

Menurut Toni, harga kedelai yang sebelumnya berada di kisaran Rp8.700–9.000 per kilogram kini menembus Rp11.000. Kenaikan ini sudah berlangsung sejak sebulan terakhir dan semakin memberatkan perajin.

“Awalnya naik Rp100, lalu Rp200. Sekarang sudah Rp11 ribu per kilogram,” jelasnya.

Sebagai pewaris usaha keluarga sejak 1970-an, Toni biasanya membeli kedelai dalam jumlah besar hingga dua ton sekali kulakan. Namun, meski stok besar bisa meredam fluktuasi harian, margin keuntungan tetap menipis. Produksi sehari membutuhkan 70–80 kilogram kedelai, sementara biaya modal semakin tinggi.

Produk tempe miliknya dipasarkan ke Pasar Demangan, Pasar Sentul, hingga warung makan dengan harga Rp3.000–Rp10.000 per papan. Meski ukurannya kini lebih kecil, pelanggan setia disebut masih memahami kondisi yang dihadapi perajin.

Fenomena “diet tempe” ini menjadi gambaran nyata dampak pelemahan rupiah terhadap kebutuhan sehari-hari masyarakat. Bukan hanya pelaku usaha yang terjepit, konsumen juga mulai merasakan perubahan ukuran bahan pangan akibat kenaikan harga bahan baku impor.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.