Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Ekonomi

Warga Tolak Wacana Kenaikan Tarif Transjabodetabek

Views
×

Warga Tolak Wacana Kenaikan Tarif Transjabodetabek

Sebarkan artikel ini
Img 20260615 Wa0004
Transjakarta merupakan transportasi publik pertama yang disubsidi oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta. (Foto: Koma.id / Andry Novelino)

Koma.id Wacana kenaikan tarif layanan Transjabodetabek yang tengah dikaji Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menuai penolakan dari sejumlah masyarakat pengguna transportasi umum. Mereka menilai kenaikan tarif akan menambah beban pengeluaran harian, terutama bagi pekerja yang mengandalkan layanan tersebut untuk berangkat dan pulang kerja.

Sejumlah pengguna mengaku keberatan apabila tarif Transjabodetabek dinaikkan dari tarif yang berlaku saat ini sebesar Rp3.500. Menurut mereka, biaya transportasi telah menjadi salah satu komponen pengeluaran rutin yang diperhitungkan dalam anggaran bulanan.

Silakan gulirkan ke bawah

“Sekarang tarif Rp3.500 masih cukup terjangkau. Kalau naik tentu akan berpengaruh ke pengeluaran sehari-hari, apalagi saya menggunakan Transjabodetabek hampir setiap hari untuk bekerja,” kata salah seorang pengguna di Jakarta, dikutip Senin (15/6/2026).

Penolakan serupa juga disampaikan pengguna lainnya yang menilai transportasi publik seharusnya tetap terjangkau agar semakin banyak masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.

Menurut mereka, kenaikan tarif berpotensi mengurangi minat masyarakat menggunakan transportasi massal, terutama bagi pekerja dengan pendapatan menengah ke bawah yang setiap hari melakukan perjalanan dari wilayah penyangga Jakarta seperti Bekasi, Depok, Tangerang, dan Bogor.

Wacana penyesuaian tarif mencuat setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan evaluasi terhadap operasional layanan Transjabodetabek yang terus diperluas ke kawasan penyangga. Pemprov beralasan pengembangan rute, biaya operasional, serta peningkatan kualitas layanan menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam penentuan tarif ke depan.

Meski demikian, sejumlah pengguna berharap pemerintah lebih mengutamakan peningkatan kualitas layanan dibandingkan menaikkan tarif. Mereka menyoroti masih adanya persoalan kepadatan penumpang pada jam sibuk, waktu tunggu armada, serta integrasi antarmoda yang dinilai perlu terus diperbaiki.

Pengamat transportasi juga mengingatkan bahwa kebijakan tarif transportasi publik harus mempertimbangkan kemampuan masyarakat. Menurut mereka, salah satu tujuan utama pengembangan transportasi massal adalah menyediakan layanan yang aman, nyaman, dan terjangkau sehingga dapat mengurangi kemacetan serta penggunaan kendaraan pribadi.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan kajian terkait tarif Transjabodetabek masih berlangsung dan belum ada keputusan final mengenai besaran tarif baru. Pemprov memastikan setiap kebijakan yang diambil akan mempertimbangkan aspek pelayanan, keberlanjutan operasional, serta kemampuan ekonomi masyarakat.

Layanan Transjabodetabek sendiri menjadi salah satu program transportasi yang terus diperluas untuk menghubungkan Jakarta dengan kota-kota penyangga di kawasan Jabodetabek. Pemerintah berharap pengembangan jaringan tersebut dapat mendukung mobilitas masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.

Namun, di tengah pembahasan mengenai kemungkinan penyesuaian tarif, sebagian warga berharap pemerintah tetap mempertahankan tarif yang terjangkau agar manfaat transportasi publik dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.