Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Ekonomi

Rupiah Perkasa Hadapi Dolas AS Hari Ini

Views
×

Rupiah Perkasa Hadapi Dolas AS Hari Ini

Sebarkan artikel ini
dollar rupiah
Dolar Amerika Serikat dan Rupiah Indonesia.

Koma.id Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan awal pekan ini dengan penguatan tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (15/6/2026).

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,98% atau terapresiasi ke level Rp17.690/US$. Penguatan ini melanjutkan kinerja positif pada perdagangan terakhir pekan lalu. Pada Jumat (12/6/2026), rupiah berhasil ditutup menguat 0,61% ke posisi Rp17.865/US$.

Silakan gulirkan ke bawah

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak solid di zona hijau. Mata uang Garuda sudah mengawali perdagangan dengan penguatan 0,64% ke level Rp17.750/US$. Penguatan rupiah kemudian semakin besar hingga sempat menguat ke level Rp17.670/US$.

Meski penguatannya sedikit berkurang menjelang akhir perdagangan, rupiah tetap mampu bertahan kuat di area Rp17.600-an/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,22% ke posisi 99,531.

Penguatan rupiah pada perdagangan hari ini ditopang oleh pelemahan dolar AS di pasar global.

DXY melemah seiring kabar bahwa Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati kerangka kesepakatan damai. Kabar tersebut membuat harga minyak turun dan mendorong permintaan terhadap aset berisiko.

Pejabat AS dan Iran pada Minggu waktu setempat menyatakan kedua negara telah menyepakati kerangka untuk mengakhiri perang, menghentikan blokade AS terhadap Iran, serta membuka kembali Selat Hormuz. Harga minyak ikut turun, dengan Brent terkoreksi lebih dari 4% ke level US$83,82 per barel.

Meski demikian, pelaku pasar masih tetap berhati-hati. Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada New York Times pada Minggu bahwa jika Iran gagal mencapai kesepakatan nuklir final dengan AS, maka Washington dapat kembali melancarkan serangan militer ke Teheran atau menjadikan AS sebagai “penjaga Timur Tengah” dengan imbalan 20% dari pendapatan kawasan tersebut.

Kondisi ini pada akhirnya mengurangi minat pasar terhadap dolar AS sebagai aset aman atau safe haven. Ketika permintaan terhadap dolar AS menurun, ruang penguatan bagi mata uang negara lain, termasuk rupiah, menjadi lebih terbuka.

Sentimen positif juga datang dari meningkatnya kepercayaan pasar terhadap langkah stabilisasi yang ditempuh pemerintah dan Bank Indonesia (BI).

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.