Koma.id – Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Ali Mochtar Ngabalin mengajak Mahkamah Rakyat Luar Biasa untuk hadir ke Kantor Staf Kepresidenan.
Ngabalin menyampaikan ajakan tersebut saat menjadi narasumber pada dialog Kompas Petang, Kompas TV, Rabu (26/6/2024).
Klaim Batalyon Teritorial Buat Tekan Begal, Netizen ke Menhan Sjafrie: “ Woi Bukan Tugasnya Pak”
Dalam dialog tersebut Ngabalin menanggapi pernyataan juru bicara Mahkamah Rakyat Luar Biasa, Edy Kurniawan, yang menyebut pihaknya telah mengundang Presiden Joko Widodo atau Jokowi datang ke Mahkamah Rakyat Luar Biasa.
Edy juga menyebut bahwa mahkamah tersebut berisi korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM).
“Dengar dulu, mahkamah rakyat ini rakyat mana yang kau bikin? Dari mana kau punya aturan bikin ini mahkamah rakyat? Astaghfirullah, Edy, Edy, kau bilang sama teman-teman itu, rakyat mana? Kasih tunjuk,” kata Ngabalin.
“Besok ini, hari Jumat, bawa datang ke mari sini, supaya kita kasih tahu mana yang kau bilang rakyat yang tidak mendapatkan itu keadilannya. Jangan kau bikin mahkamah sendiri.”
Ia pun mempertanyakan legal standing dari Mahkamah Rakyat Luar Biasa tersebut sehingga dengan mudahnya memanggil orang hadir.
“Dari mana kau dapat legal stading? Kenapa kau buat mahkamah rakyat di luar dari aturan republik ini? Dari mana? Rakyat siapa yang kau maksudkan? Gampang-gampang saja kau panggil-panggl orang untuk datang ke mahkamah rakyat. Aduh, bahaya ini generasi kita ini.”
“Besok kau datang, saya jam 8 sudah ada di Kantor Staf Presiden. Mana itu mereka yang bilang tidak mendapatkan keadilan itu.,” kata Ngabalin.
Saat pembawa acara menanyakan kepastian waktu ajakan tersebut hari Kamis atau Jumat, Ngabalin mengatakan ia menunggu mereka bisa Kamis maupun Jumat.
“Mau hari Kamis, mau hari Jumat saya tunggu.”
Dalam dialog tersebut, Ngabalin beberapa kali mempertanyakan hal yang sama, termasuk hak mereka memanggil presiden.
“Apa yang membuat legal standing mu membuat Mahkamah Rakyat? Enak-enakmu itu panggil presiden, panggil ketua-ketua partai. Apa urusannya Edy? Kenapa ada orang terpelajar kayak begitu?”
“Atas sama demokrasi menjual demokrasi dengan harga murah, atas nama demokrasi kau salurkan semua kebencian-kebencianmu,” katanya.










