Koma.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mengumumkan upaya pencegahan wabah Mycoplasma Pneumonia bagi masyarakat Indonesia.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Imran Pambudi mengatakan, rekomendasi terkait wabah Mycoplasma Pneumonia ini penting untuk diketahui oleh masyarakat. Sehingga, publik mengetahui upaya antisipasinya.
“Pertama, direkomendasikan untuk vaksin melawan influenza, Covid-19, dan patogen pernapasan lainnya jika diperlukan,” ujarnya dalam diskusi virtual, Jumat (1/12/2023).
Kedua, lanjut Imran, menjaga jarak dengan orang yang sakit. Sementara yang ketiga, dengan tetap tinggal di rumah dan tidak bepergian saat sakit atau melakukan isolasi mandiri.
“Keempat, menjalani tes dan perawatan medis sesuai kebutuhan. Kelima, memakai masker sebagaimana mestinya,” bebernya.
Keenam, memastikan ventilasi yang baik. Serta ketujuh, membiasakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan mencuci tangan pakai sabun antiseptik dan air mengalir.
“Terakhir, segera ke fasyankes (fasilitas pelayanan kesehatan) terdekat jika ada tanda gejala, batuk dan/atau kesukaran bernapas disertai dengan demam,” tambahnya.
Sebagai bentuk kesiapsiagaan Pemerintah dalam mengantisipasi penularan Mycoplasma pneumonia di Indonesia, Kementerian Kesehatan telah menerbitkan Surat Edaran Nomor: PM.03.01/C/4632/2023.
Surat edaran tersebut berisi tentang kewaspadaan terhadap kejadian Mycoplasma Pneumonia di Indonesia.
“Penerbitan surat edaran tersebut bertujuan mengantisipasi penyebaran pneumonia di Indonesia,” kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI Maxi Rein Rondonuwu secara terpisah.
Dalam Surat Edaran tersebut, Maxi meminta Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) untuk melakukan pemantauan perkembangan kasus dan negara terjangkit di tingkat global serta meningkatkan kewaspadaan dini dengan melakukan pemantauan kasus yang dicurigai pneumonia.
Ia juga meminta KKP untuk meningkatkan pengawasan terhadap orang (awak, personel, dan penumpang), alat angkut, barang bawaan, lingkungan, vektor, binatang pembawa penyakit di pelabuhan, bandar udara dan pos lintas batas negara. Terutama, yang berasal dari negara terjangkit.
Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menambahkan, Pemerintah tengah melakukan sejumlah upaya peningkatan kewaspadaan untuk menghadapi risiko penularan wabah pneumonia misterius yang menyerang ribuan masyarakat China.
“Kewaspadaan itu biasa kita lakukan di pintu masuk melalui Kantor Kesehatan Pelabuhan ya, terutama orang dengan gejala flu, kemudian kita edukasi. Kemudian kalau memang bertambah berat, datang ke fasilitas pelayanan kesehatan,” kata Siti Nadia.
Upaya lainnya adalah dengan melakukan pengawasan pada bahan makanan produk hidup. Kemenkes juga memiliki suatu sistem surveilans yang bernama Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI).
Surveilans ILI dan SARI, kata dia, dilakukan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) seperti Puskesmas untuk melakukan monitor terhadap gejala yang menyerupai influenza.
Hal tersebut dilakukan lantaran wabah pneumonia tersebut salah satunya dipicu oleh bakteri Mycoplasma, yang mengakibatkan gejala mirip influenza.
Namun, bukanlah influenza karena penyakit tersebut hanya diakibatkan oleh virus.
“Harusnya gini, kalau orang sakit influenza dia sembuh sendiri dan nggak perlu dirawat sampai berat. Makanya kita punya SARI itu untuk memantau kasus-kasus influenza yang dengan tiba-tiba dia jadi berat atau dia jadi bergejala berat,” terangnya.
Jika terdapat kasus tersebut, Nadia menjelaskan, Dinas Kesehatan setempat akan mengambil sampel untuk dilakukan pemeriksaan genome sequencing untuk meninjau ulang,apakah penyakit tersebut diakibatkan oleh bakteri Mycoplasma atau bakteri/virus lainnya.
Selain itu, kewaspadaan perihal obat-obatan juga dilakukan. Ia mengonfirmasi bahwa obat untuk mengatasi bakteri Mycoplasma telah tersedia di Indonesia.
“Sampai saat ini kalau untuk Mycoplasma kita punya, obatnya ada di Indonesia, jadi kita nggak perlu (impor). Ini kan bukan suatu penyakit baru ya, jadi tinggal memastikan diagnostiknya apakah Mycoplasma atau bukan,” ucapnya.
Lebih lanjut, upaya peningkatan kewaspadaan tersebut juga sesuai dengan anjuran dari WHO. Untuk itu, agar peningkatan kewaspadaan berjalan secara optimal, dia mengimbau kepada masyarakat untuk senantiasa mencuci tangan dengan air mengalir, menjaga Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta memakai masker bila merasa tidak sehat.












