KOMA.ID – Bacapres dari Partai NasDem, Anies Baswedan menyatakan bahwa dirinya hanya mengikuti apa yang sudah menjadi keputusan Ketua Umum partai yang memberikannya tiket maju Pilpres 2024.
“Apabila pak Surya Paloh mengajukan nama yang tidak relevan dengan usaha pemenangan dan saya harus melaksanakan itu maka saya petugas partai (NasDem -red),” kata Anies Baswedan dalam sesi talkshow dengan Najwa Shihab seperti dikutip, Jumat (8/9).
Bagi Anies, kemunculan nama Muhaimin Iskandar untuk ditarik ke dalam koalisi pemenangannya juga menjadi kebutuhan. Ia mengklaim bahwa dirinya sudah meminta kepada semua partai koalisi bersama PKS dan Demokrat, bahwa pihaknya patut menggandeng PKB (Partai Kebangkitan Bangsa).
Alasannya, Cak Imin bisa menjadi penambal dari kelemahan yang dimiliki oleh Koalisi Perubahan untuk Persatuan.
“Kalau yang dibawa namanya adalah yang sesuai dengan kebutuhan kita. Di bulan Juni kepada semau saya sampaikan, kita perlu mengundang PKB karena kita lemah di Jawa Timur dan Jawa Tengah,” ujarnya.
DPR Dukung Usia Pensiun Polisi 60 Tahun
Karena kebutuhan itu yang dirasa sangat mendesak, sehingga ia setuju saja ketika Surya Paloh meminta Muhaimin ditawarkan sebagai Bacawapres, bersamaan dengan kerelaannya meninggalkan janji manisnya kepada AHY yang sempat diminta Anies mendampinginya di Pilpres 2024 sebagai Cawapres.
“Dan kita butuh basis kuat di sana. Jadi ada nama ini sesuai dengan kebutuhan,” sambungnya.
Sebelumnya diketahui Sobat Holopis, nama Muhaimin Iskandar muncul setelah Surya Paloh bertemu dengan Ketum PKB itu. Bahkan Surya Paloh sendiri yang kabarnya meminta langsung Cak Imin agar mau menjadi Cawapres Anies Baswedan.
Hingga akhirnya, pada tanggal 2 September 2023 resmilah kesepakatan koalisi antara PKB dengan PKB dengan konsekuensi Anies-Imin sebagai pasangan Capres-Cawapresnya.
Di sisi lain, hingga sampai dengan saat berita ini diturunkan, Partai Demokrat yang menjadi bagian dari koalisi pendukung Anies justru telah mencabur dukungan mereka karena merasa dikhianati oleh Anies Baswedan.
Sementara PKS, juga masih menaruh kecewa bahwa nama Muhaimin diambil sepihak oleh Surya Paloh dan Anies Baswedan. Terbukti di dalam agenda deklarasi 2 September di Hotel Majapahit alias Hotel Yamato di Surabaya, tak ada satu pun pengurus atau kader PKS yang hadir. Begitu juga saat silaturrahmu PKB dan NasDem pada tanggal 6 September 2023, tak ada satu pun batang hidung kader dan petinggi PKS yang muncul di sana.
Pun demikian, PKS masih belum berani tegas menyatakan akan masih berada di Koalisi pemenangan Anies atau tidak, dengan kondisi Cawapresnya adalah Muhaimin Iskandar.













