Koma.id | Jakarta – Harga emas dunia kembali anjlok tajam pada perdagangan Rabu (10/06), mencatat penurunan 2,7 persen ke level terendah dalam lebih dari dua bulan. Emas spot ditutup di posisi US$ 4.148,86 per ons, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus melemah ke US$ 4.169,90 per ons.
Penurunan ini terjadi di tengah memanasnya kembali konflik di Timur Tengah. Garda Revolusi Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain sebagai balasan atas serangan Washington di sekitar Selat Hormuz. Bentrokan tersebut menjadi eskalasi terbesar sejak gencatan senjata disepakati pada April 2026.
Tidak hanya emas, logam mulia lain juga ikut tertekan. Perak spot turun 2,4 persen ke US$ 63,8 per ons, platinum merosot 3,9 persen ke US$ 1.659,18 per ons, sementara paladium justru naik tipis 0,4 persen ke US$ 1.227,25 per ons.
Analis riset senior FXTM, Lukman Otunuga, menilai harga emas saat ini berada dalam tekanan ganda. “Konflik terbaru antara AS dan Iran telah menggagalkan upaya mengakhiri perang. Pada saat yang sama, risiko inflasi terus meningkat sehingga membebani harga emas,” ujarnya.
Sejak perang yang didukung AS terhadap Iran dimulai pada akhir Februari 2026, harga emas telah kehilangan lebih dari 20 persen nilainya. Lonjakan harga minyak akibat konflik juga menambah kekhawatiran inflasi dan potensi kenaikan suku bunga. Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai, kenaikan suku bunga justru menekan daya tarik logam mulia karena tidak memberikan imbal hasil.
Saat ini, pasar memperkirakan peluang sebesar 70 persen bagi Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga pada Desember 2026. Investor pun menanti rilis data inflasi AS, yakni CPI Mei pada Rabu dan PPI Juni pada Kamis (11/06), yang akan menjadi indikator arah kebijakan moneter The Fed.
Dari sisi teknikal, harga emas yang menembus rata-rata pergerakan 200 hari (200-day moving average) disebut sebagai sinyal negatif yang dapat memicu tekanan jual lebih lanjut.








