Koma.id– Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer dan Ketua Departemen Komunikasi dan Informatika DPP Partai Demokrat Pimpinan Moeldoko menyebut Denny Indrayana (DI), sedang memainkan jurus teler.
Yakni dengan menciptakan kontroversi baru. Dia memposting tulisan di Twitter yang dianggap menyerang nama baik Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Kepala Staf Kepresidenan R.I, Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko. Namun, sebelum tanggapan terhadap pernyataannya diberikan, DI dengan cepat menghapus tweet tersebut.
“Seharusnya kalau DI merasa di jalan yang benar dan apa yang dikatakannya itu berdasarkan data dan fakta, bukan berdasarkan bisikan setan atau syakwasangka, maka DI akan membiarkan postingan di Twitternya, dan tidak terburu-buru menghapusnya. Ini kan tindakan yang tak bertanggung jawab?,” kata SHE, Kamis (1/6/2023).
Tindakan DI itu menimbulkan pertanyaan tentang kejelasan niatnya. Apakah ini merupakan tindakan tidak bertanggung jawab atau menunjukkan ketakutannya akan konsekuensi hukum yang mungkin timbul, seperti tuduhan hoax, pencemaran nama baik, dan fitnah? Pasal-pasal hukum yang relevan dengan tindakan tersebut dapat berlapis-lapis. Sebagai seorang pengacara profesional, DI seharusnya menjauhi perilaku seperti ini.
Terbuka saja, jika DI bukanlah teman seorganisasi dengan saya, mungkin saya telah melaporkan dia ke polisi untuk mempertanggungjawabkan tindakannya. Sejak beberapa waktu lalu, banyak orang yang meminta saya untuk melaporkan DI ke polisi, namun saya masih memberinya kesempatan. Harap diingat, kasus DI ini bukan hanya sebatas masalah hoax, pembocoran rahasia negara, atau fitnah. Ada juga kasus lain yang melibatkan DI, yang sudah cukup lama dan telah ditetapkan sebagai tersangka. Namun, hingga saat ini, kasus tersebut belum diproses di pengadilan. Penyebabnya masih belum jelas.
Dalam tweet yang kemudian dihapus oleh DI, ia kembali menuduh Presiden Jokowi sengaja terlibat dalam revolusi Partai Demokrat melalui Kongres Luar Biasa (KLB) yang dipimpin oleh Moeldoko. DI menduga bahwa Presiden Jokowi ikut campur dalam upaya merebut jabatan Ketua Umum Partai Demokrat yang dipegang oleh Moeldoko.
“DI dalam tweetnya yang dia hapus sendiri, DI lagi-lagi menuduh Presiden Jokowi telah sengaja turut campur dalam merevolusi Partai Demokrat melalui Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat yang dipimpin Pak Moeldoko. DI menuduh Presiden Jokowi ikut cawe-cawe perebutan Ketum Partai Demokrat oleh KSP Moeldoko,” tutupnya.








