Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
HeadlineNasional

Kepala BGN: Belalang dan Ulat Sagu Berpotensi Jadi Menu Makan Bergizi Gratis

×

Kepala BGN: Belalang dan Ulat Sagu Berpotensi Jadi Menu Makan Bergizi Gratis

Sebarkan artikel ini
Kepala BGN: Belalang dan Ulat Sagu Berpotensi Jadi Menu Makan Bergizi Gratis
Kandungan gizi belalang dan ulat sagu diproyeksikan akan masuk dalam daftar menu Makan Bergizi Gratis (MBG). (Foto/Istimewa)

Koma.id Kandungan gizi belalang dan ulat sagu banyak dicari orang. Dua serangga itu diproyeksikan akan masuk dalam daftar menu Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurut Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana, belalang dan ulat sagu adalah sumber protein. Terlebih, dua serangga itu adalah makanan yang biasa dikonsumsi di beberapa wilayah di Indonesia.

Silakan gulirkan ke bawah

“Mungkin saja ada satu daerah suka makan serangga (seperti) belalang, ulat sagu. Itu bisa jadi bagian protein,” kata Dadan, Sabtu (25/1).

Dadan juga menilai, sumber protein bisa datang dari mana saja. Karena itu, BGN tidak menetapkan sumber proteinnya apa, melainkan standar komposisi gizinya.

“Isi protein di berbagai daerah itu sangat bergantung protein sumber daya lokal dan kesukaan lokal,” ujarnya.

Mengacu pada hal itu, masyarakat perlu tahu bahwa belalang dan ulat sagu memang tergolong dalam sumber protein. Berikut penjelasan selengkapnya.

 

Kaya Manfaat

Ada banyak manfaat kesehatan mengonsumsi belalang, hal ini karena serangga tersebut tinggi protein. Selain itu, belalang juga memiliki efek antibakteri.

Mengonsumsi belalang goreng dipercaya juga dapat meningkatkan energi. Bahkan, dapat menurunkan kadar kolesterol, karena kandungan lemak tak jenuhnya yang tinggi.

Luar biasanya lagi, belalang goreng diklaim mampu menjaga kesehatan saraf dan kognitif berkat kandungan vitamin B1 dan B12 yang terkandung di dalamnya.

Sebagai tambahan, berikut informasi gizi belalang goreng per 100 gram.

Kalori: 151 kkal

Lemak: 6,45 gram

Karbohidrat: 8,34 gram

Protein: 14,30 gram

Tak jauh berbeda dengan belalang, ulat sagu juga tinggi protein. Serangga ini biasa dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia bagian Timur. Mereka mengonsumsi ulat sagu secara mentah atau dibakar seperti sate.

Kandungan baik di balik ulat sagu salah satunya adalah adanya vitamin E dalam jumlah kecil yang mana ini tetap memberi manfaat baik bagi tubuh.

Selain itu, ulat sagu segar juga baik untuk pencernaan. Lalu, efektif melawan infeksi akibat mikroba dan ini sudah dibuktikan dalam studi yang diterbitkan di Cambridge University pada 2018.

Studi tersebut menunjukkan bahwa ulat sagu dapat memberikan penghalang yang dapat melindungi tubuh dari berbagai mikroorganisme berbahaya.

Meski begitu, disarankan untuk tidak mengonsumsi ulat sagu secara berlebihan. Sebab, mengonsumsi protein terlalu tinggi dapat memicu masalah pencernaan, seperti sembelit, diare, kembung, hingga kram perut.

Berikut informasi nilai gizi ulat sagu segar per 100 gram.

Kalori: 241 kkal

Lemak: 21,60 gram

Karbohidrat: 5,80 gram

Protein: 5,80 gram

 

Pendapat Ahli Gizi

Wacana menggantikan sumber protein konvensional seperti telur dengan makanan berbasis serangga dan ulat sagu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi perhatian baru dalam pengembangan kearifan lokal di Indonesia.

Dokter Gizi Klinik MRCC Siloam Hospitals dr. Inge Permadhi, Sp.GK menjelaskan bahwa bahan pangan ini tidak hanya kaya protein tetapi juga mendukung pemanfaatan sumber daya lokal.

“Makanan seperti belalang dan ulat sagu sebenarnya sudah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat di beberapa daerah di Indonesia. Ini adalah bagian dari kearifan lokal yang sangat baik,” ujarnya

Meski potensi kandungan proteinnya menjanjikan, Dokter Inge menekankan perlunya kajian lebih lanjut untuk memastikan kesetaraan nilai gizi antara makanan berbasis serangga dan sumber protein lainnya.

“Misalnya, satu butir putih telur mengandung sekitar 5 gram protein. Tapi, berapa banyak ulat sagu yang setara dengan jumlah protein itu? Itu harus dihitung dan dikaji lebih lanjut,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa pengolahan makanan berbasis serangga harus dilakukan secara higienis, sehat, dan bervariasi untuk memastikan keamanan, kesehatan, serta membuat orang senang untuk mengonsumsi.

Wacana ini memiliki tantangan. Salah satu yang menjadi sorotan adalah kemungkinan terjadinya alergi, biasanya orang sudah mengetahui kecenderungan alergi terhadap makanan atau kondisi tertenu.

“Seperti telur yang bisa menyebabkan alergi pada beberapa orang tertentu, ulat sagu atau belalang juga memiliki potensi yang sama. Oleh karena itu, penting untuk mencantumkan informasi tentang sumber makanan tersebut, sehingga apabila mereka tahu bahwa makanan tersebut dapat menyebabkan alergi, jangan dikonsumsi,” ungkapnya.

Selain itu, penerapan program ini juga tergantung pada ketersediaan bahan di setiap daerah. “Di daerah yang memiliki banyak ulat sagu, ini mungkin lebih mudah diterapkan. Tapi di daerah lain, bisa menjadi tantangan karena faktor ketersediaan,” katanya.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.