KOMA.ID, LAMPUNG – Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan, mengingatkan bahwa ancaman radikalisme dan terorisme saat ini semakin masif menyasar masyarakat melalui ruang digital. Menurut mantan anggota kelompok Negara Islam Indonesia (NII) itu, proses propaganda, perekrutan, hingga penghasutan kini banyak dilakukan melalui media sosial dan berbagai platform komunikasi daring.
“Ancaman radikalisme dan terorisme sekarang ada di genggaman gadget. Banyak terduga teroris yang diamankan aparat sebelum melakukan aksi karena propaganda, rekrutmen, dan penghasutan dilakukan melalui platform media sosial,” kata Ken saat menjadi pembicara dalam Diskusi Kebangsaan di Pondok Pesantren Sirojud Tholibin, Bandar Lampung, dalam rangka refleksi menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Rabu (5/8/2026).
Dalam paparannya, Ken yang juga menjabat Kepala Bidang Pemuda dan Pendidikan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Lampung menjelaskan bahwa ancaman ekstremisme tidak lagi selalu berlatar belakang ideologi agama.
Ia mencontohkan munculnya fenomena True Crime Community (TCC), yakni komunitas daring yang mengagungkan pembunuhan berantai, penembakan massal, dan berbagai bentuk kekerasan ekstrem.
Menurut Ken, banyak anak dan remaja yang mengalami tekanan psikologis akibat perundungan maupun persoalan keluarga justru mencari pelarian di dunia digital. Dalam kondisi tersebut, mereka rentan direkrut ke dalam komunitas yang memvalidasi kemarahan dan mendorong aksi kekerasan.
Praktisi Hukum Ingatkan Bank Mandiri Jangan Asal Blokir Rekening, Harus Lindungi Hak Nasabah
“Alih-alih mendapatkan doktrin agama, mereka justru terpapar ideologi ekstrem seperti neo-Nazi dan white supremacy. Mereka mengagungkan kekerasan, menggunakan simbol-simbol militer, hingga merencanakan serangan sebagai bentuk pelampiasan,” ujarnya.
Ia mengungkapkan mayoritas anak yang pernah diamankan aparat karena diduga berkaitan dengan aktivitas TCC masih berusia sekolah, berkisar 11 hingga 18 tahun. Sebagian besar, kata Ken, memiliki latar belakang sebagai korban perundungan atau berasal dari keluarga yang tidak harmonis.
“Rasa sakit hati karena dikucilkan, menjadi korban bullying, atau persoalan broken home dapat memunculkan keinginan membalas dendam kepada sekolah, guru, maupun teman sebaya,” katanya.
Karena itu, Ken menilai keluarga, guru, dan guru ngaji memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam mendeteksi paparan radikalisme maupun ekstremisme sejak dini.
Ia mengimbau para orang tua agar lebih aktif memantau aktivitas digital anak, terutama apabila mulai sering mengakses platform privat seperti Discord, Telegram, grup WhatsApp tertutup, forum anonim, maupun komunitas gim yang membahas kekerasan.
Selain itu, perubahan perilaku seperti enggan bersekolah, mengurung diri, lebih banyak menghabiskan waktu di depan gawai, gangguan tidur, hingga mulai mengoleksi simbol-simbol kekerasan juga patut menjadi perhatian.
“Bangun komunikasi yang terbuka tanpa menghakimi. Jadikan rumah sebagai tempat yang aman agar anak mau bercerita sehingga mereka tidak mencari validasi dari komunitas ekstrem di media sosial,” tutur Ken.
Di akhir pemaparannya, Ken berharap pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital bersama Polri memperkuat pengawasan terhadap ruang digital, termasuk memblokir grup media sosial yang terafiliasi dengan aktivitas teror maupun ekstremisme.
Ia juga mendorong platform digital seperti Discord, Telegram, TikTok, dan Instagram memperketat sistem deteksi terhadap konten kekerasan serta membatasi akses anak di bawah umur ke ruang percakapan privat yang berpotensi menjadi sarana perekrutan.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Sirojud Tholibin, KH Lukman Hakim, mengatakan diskusi kebangsaan tersebut diikuti ratusan peserta yang terdiri atas tokoh agama, guru ngaji, jamaah majelis taklim, dan para santri.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian pesantren terhadap maraknya kasus penangkapan terduga pelaku terorisme di sejumlah daerah, termasuk di Provinsi Lampung.
“Kami sengaja mengundang Pak Ken Setiawan karena beliau pernah mengalami langsung proses doktrin kelompok radikal dan kini aktif memberikan edukasi pencegahan terorisme. Pengalaman beliau menjadi pembelajaran penting bagi masyarakat agar tidak mudah terpapar paham ekstrem,” ujar Lukman.
Dalam kegiatan yang sama, Persatuan Guru Ngaji Indonesia (PGNI) Lampung turut memaparkan program kerja organisasi. Ketua Umum PGNI Lampung, Ustaz Amirudin, mengatakan pihaknya terus menggelar roadshow kebangsaan sebagai bagian dari upaya mencegah penyebaran radikalisme di tengah masyarakat.
PGNI juga memperkenalkan portal digital pgni.net yang dikembangkan untuk mendukung pengelolaan data, penyebaran informasi, serta pemberdayaan guru ngaji secara terintegrasi.
“Dengan memanfaatkan teknologi digital, pgni.net membantu meningkatkan kualitas administrasi, transparansi data, sekaligus mempermudah akses informasi bagi seluruh anggota organisasi,” kata Amirudin.














