Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Ragam

Restorasi Jiwa Indonesia : Pembangunan Bangsa Harus Seimbangkan Kemajuan Fisik dan Kesadaran Manusia

×

Restorasi Jiwa Indonesia : Pembangunan Bangsa Harus Seimbangkan Kemajuan Fisik dan Kesadaran Manusia

Sebarkan artikel ini
Syam Basrijal
Gambar main character Syam Basrijal, sang pendiri Restorasi Jiwa Indonesia.

KOMA.ID, JAKARTA – Pendiri Restorasi Jiwa Indonesia, Syam Basrijal, mengajak seluruh elemen bangsa mengubah cara pandang membangun negara, dengan tidak hanya terpaku pada capaian kasat mata, melainkan juga memperkuat akar berupa kualitas kesadaran kolektif masyarakat dan pemimpin.

Dalam gagasannya yang berjudul Membaca Arah Bangsa dari Cermin Kesadaran, Syam menegaskan bahwa bangsa ini sering sibuk membahas peristiwa demi peristiwa, namun lupa menelaah asal-usul masalah yang terjadi. Berbagai persoalan mulai dari korupsi, konflik sosial, lemahnya pelayanan publik hingga rendahnya produktivitas, sejatinya bukan sekadar masalah hukum, politik, birokrasi, atau ekonomi semata.

Silakan gulirkan ke bawah

“Bangsa sering kali sibuk membaca peristiwa, tetapi lupa membaca akar yang melahirkannya. Sebuah bangsa tidak pernah lebih baik daripada tingkat kesadaran kolektif masyarakat dan para pemimpinnya,” ujar Syam, Kamis (6/8/2026).

Ia menjelaskan bahwa selama ini ukuran pembangunan lebih banyak didasari angka pertumbuhan ekonomi, infrastruktur, investasi, stabilitas politik, dan keberhasilan program pemerintah. Padahal dimensi pembangunan kesadaran manusia sering kali terabaikan, padahal di sanalah letak sumber setiap keberhasilan maupun kegagalan bangsa.

“Ketika ego lebih besar daripada integritas, kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan bersama, dan jabatan dipahami sebagai hak, bukan amanah, maka kerusakan sistem hanyalah persoalan waktu,” tegasnya.

Syam meminta paradigma pembangunan Indonesia diperbarui menjadi lebih utuh. Pembangunan fisik harus sejalan dengan pembangunan karakter, kemajuan teknologi diimbangi kematangan moral, pertumbuhan ekonomi disertai peningkatan integritas, serta kecerdasan intelektual diseimbangkan dengan kecerdasan emosional, sosial, dan spiritual. Tanpa keseimbangan ini, kemajuan yang dicapai justru akan memperbesar dampak kelemahan manusia yang mengelolanya.

Mengenai kepemimpinan, ia menjelaskan bahwa pemimpin sejati bukanlah mereka yang pandai mengatur orang lain, melainkan mampu menguasai diri sendiri. Pemimpin yang tenang dan jernih akan lebih tepat mengambil keputusan, berani mendengar kritik, dan mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan kelompok.

“Dalam perspektif kesadaran holistik, kepemimpinan bukanlah kemampuan mengendalikan orang lain, melainkan kemampuan mengendalikan diri sendiri,” kata Syam.

Ia juga mengingatkan agar tidak melemparkan seluruh tanggung jawab perubahan hanya kepada pemerintah atau negara. Negara adalah pantulan dari masyarakatnya; tidak akan ada birokrasi bersih jika warga masih menyepelekan pelanggaran kecil, dan tidak akan lahir pemimpin bijak jika masyarakat lebih memuja popularitas daripada karakter.

Perubahan harus tumbuh dari dalam ke luar, dimulai dari keluarga, sekolah, lingkungan kerja, komunitas, hingga setiap individu yang mau mengoreksi diri sebelum menyalahkan orang lain. Kesadaran semacam ini akan melahirkan kepercayaan sebagai modal sosial terbesar, yang kemudian mempermudah kerja sama, menyehatkan ekonomi, dan mendewasakan demokrasi.

Syam menambahkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk menjadi bangsa hebat, mulai dari kekayaan alam, bonus demografi, keragaman budaya, posisi strategis, hingga nilai gotong royong. Tantangannya bukan kurangnya potensi, melainkan kemampuan mengelola potensi itu dengan kesadaran yang lebih tinggi.

Lantas ia pun menekankan bahwa perubahan terbesar dalam sejarah bangsa tidak pernah dimulai dari pergantian pemimpin, melainkan dari kebangkitan kesadaran manusianya. Ketika manusia bertumbuh dalam integritas, tanggung jawab, dan kebijaksanaan, bangsa tidak hanya menjadi lebih maju, tetapi juga lebih bermartabat.

“Indonesia tidak sedang kekurangan orang pintar. Indonesia membutuhkan lebih banyak manusia yang sadar—sadar bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi, setiap jabatan adalah amanah, setiap profesi adalah bentuk pengabdian, dan setiap tindakan yang kita lakukan, sekecil apa pun, sedang ikut menentukan wajah bangsa ini,” pungkasnya.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.