Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Nasional

Fernando Emas Kritik Respons Prabowo terhadap Pakar: Presiden Harus Terbuka terhadap Masukan

×

Fernando Emas Kritik Respons Prabowo terhadap Pakar: Presiden Harus Terbuka terhadap Masukan

Sebarkan artikel ini
Direktur Eksekutif Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas
Direktur Eksekutif Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas

Koma.id, JAKARTA — Direktur Rumah Politik Indonesia Fernando Emas mengkritik pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut ada pakar yang karena terlalu pintar justru menjadi “goblok”. Fernando menilai pernyataan tersebut menunjukkan respons yang menurutnya terlalu emosional dalam menghadapi kritik terhadap kebijakan pemerintah.

Pernyataan Prabowo itu disampaikan saat menghadiri peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat (18/9/2026).

Silakan gulirkan ke bawah

Dalam pidatonya, Prabowo menyinggung sejumlah pihak yang disebutnya sebagai pakar. Ia mengatakan kepakaran semestinya disertai kejujuran intelektual dan tidak digunakan untuk menyampaikan fitnah.

“Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok,” kata Prabowo.

Prabowo kemudian menekankan pentingnya kejujuran intelektual bagi para cendekiawan dalam menggunakan pengetahuan dan kepakarannya. Ia juga mengatakan memilih memaafkan pihak yang dianggap melakukan kesalahan apabila menyadari kekeliruannya.

Menanggapi pernyataan tersebut, Fernando menilai persoalan utamanya bukan hanya pilihan kata yang digunakan Presiden, melainkan cara pemerintah merespons kritik dan masukan dari masyarakat maupun kalangan ahli.

Menurut Fernando, Presiden seharusnya membuka ruang terhadap kritik, terutama apabila kritik tersebut berkaitan dengan kebijakan publik dan program pemerintah.

“Prabowo Subianto terlalu emosional dalam menerima kritik dan masukan terhadap pemerintahan serta program yang sedang dijalankan,” ujar Fernando.

Fernando mengatakan kritik seharusnya dapat menjadi bagian dari proses evaluasi kebijakan. Menurut dia, masukan dari berbagai pihak dapat digunakan untuk menguji pelaksanaan program pemerintah sekaligus menemukan persoalan yang perlu diperbaiki.

Ia juga menilai pernyataan Prabowo berpotensi menjadi bumerang apabila kritik terhadap pemerintah justru dipandang sebagai sesuatu yang harus dihadapi secara konfrontatif.

“Saya kira pernyataan Prabowo tersebut lebih pantas ditujukan terhadap dirinya sendiri. Seharusnya sebagai presiden mau membuka diri terhadap kritik yang diberikan oleh berbagai pihak,” tegasnya.

Fernando selanjutnya menyoroti pentingnya keberagaman perspektif dalam proses pengambilan kebijakan. Ia menduga ketergantungan terhadap informasi dari lingkungan terdekat dapat membuat pemerintah kurang memperoleh masukan dari luar lingkaran kekuasaan.

“Masukan dan informasi yang benar hanya dari orang-orang di sekitarnya sehingga masukan dan kritik dianggap tidak penting,” ujarnya.

Fernando juga mengkritik gaya komunikasi pemerintah dalam menghadapi pihak-pihak yang memiliki pandangan berbeda. Ia menilai pemimpin perlu tetap membuka ruang dialog agar perbedaan pandangan dapat menjadi bagian dari evaluasi pemerintahan.

Selain mengkritik respons terhadap pakar, Fernando menyampaikan pandangannya mengenai keberlangsungan pemerintahan Prabowo hingga 2029. Ia menyatakan keyakinannya bahwa pemerintahan Prabowo menghadapi tantangan politik yang berat untuk menyelesaikan masa jabatan pertamanya.

“Saya semakin yakin kalau Prabowo Subianto tidak akan menuntaskan kepemimpinannya sampai 2029,” katanya.

Fernando mengaitkan pandangannya tersebut dengan apa yang ia nilai sebagai gaya kepemimpinan dan hubungan pemerintah dengan pihak-pihak yang memberikan kritik.

“Seperti saya katakan sebelumnya, melihat arogansi dan gaya kepemimpinan Prabowo yang tidak bersahabat dengan para pengkritiknya maka sangat terbuka peluang akan berakhir kepemimpinannya sebelum 2029,” ujarnya.

Pernyataan mengenai masa jabatan tersebut merupakan pandangan Fernando dan bukan hasil pengukuran atau prediksi independen.

Ia menambahkan, pembahasan mengenai kontestasi politik 2029 menurutnya masih terlalu jauh apabila pemerintahan saat ini masih menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan mandatnya.

“Terlalu jauh kalau Prabowo memikirkan kontestasi 2029, sedangkan untuk menuntaskan periode pertamanya saja sangat sulit dan sangat terbuka diturunkan sebelum habis masa jabatannya,” pungkas Fernando.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.