Koma.id, JAKARTA — Gaya komunikasi Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan setelah pernyataannya yang menyebut “pakar goblok” dalam pidato peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat menanggapi sejumlah pakar yang dinilainya telah melampaui batas dalam menyampaikan kritik terhadap pemerintah. Prabowo juga menekankan pentingnya kejujuran dalam menggunakan kepakaran dan tidak menyampaikan fitnah.
Namun, pernyataan tersebut mendapat kritik dari Direktur Rumah Politik Indonesia Fernando Emas. Ia menilai respons Presiden terhadap kritik menunjukkan sikap yang terlalu emosional dalam menghadapi pandangan yang berbeda.
“Reaksi reaktif terhadap kritik ini memunculkan anggapan bahwa Prabowo Subianto menampilkan sosok pemimpin yang arogan. Alih-alih membuka diri terhadap berbagai evaluasi demi penyempurnaan program kerja, umpatan tersebut dinilai lebih pantas menjadi bahan introspeksi bagi sang presiden sendiri,” kata Fernando kepada wartawan, Minggu (20/9/2026).
Menurut Fernando, kritik dari berbagai pihak semestinya dapat menjadi masukan bagi pemerintah untuk mengevaluasi sekaligus menyempurnakan kebijakan yang sedang berjalan.
Kasus Penyadapan Presiden Prabowo: Pendiri Gerindra Dorong Bareskrim Periksa Seskab Teddy
Ia menilai keterbukaan terhadap kritik menjadi penting karena pemerintah tidak hanya mendapatkan masukan dari lingkungan internal, tetapi juga dari akademisi, pengamat, masyarakat sipil, dan kelompok lainnya.
Fernando kemudian mengibaratkan gaya kepemimpinan yang menurutnya terlalu tertutup sebagai “katak dalam tempurung”.
Ia menduga pola tersebut dapat terjadi apabila pemerintah lebih banyak menerima informasi dan masukan dari lingkaran terdekat, sementara pandangan kritis dari luar lingkungan kekuasaan kurang mendapat perhatian.
“Jangan sampai masukan dan informasi hanya datang dari orang-orang di sekitarnya sehingga kritik dari luar lingkaran kekuasaan dianggap tidak penting,” ujarnya.
Fernando juga mengaitkan persoalan tersebut dengan tantangan pemerintahan Prabowo hingga akhir masa jabatan.
“Jika gaya kepemimpinan tertutup dan emosional ini terus dipertahankan, muncul keraguan besar bahwa ia mampu menuntaskan kepemimpinannya hingga tahun 2029,” katanya.
Meski demikian, menurut Fernando, perhatian pemerintah seharusnya tidak diarahkan terlalu jauh pada kontestasi politik berikutnya. Ia menilai penyelesaian masa pemerintahan saat ini serta menjaga stabilitas politik menjadi tantangan yang perlu diperhatikan.
“Menuntaskan masa jabatan periode pertama dengan kondisi politik yang stabil dinilai akan menjadi tantangan yang sangat berat,” ujarnya.
Fernando menilai pemerintah perlu memastikan komunikasi publik tetap terbuka terhadap kritik dan masukan dari berbagai kelompok. Menurut dia, kritik terhadap kebijakan pemerintah tidak semestinya selalu dipandang sebagai ancaman, melainkan dapat menjadi bagian dari proses evaluasi.
Polemik mengenai pernyataan “pakar goblok” tersebut pun kembali menyoroti pentingnya gaya komunikasi pejabat publik dalam menyampaikan respons terhadap perbedaan pandangan di ruang publik.














