Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Nasional

BRIN Ungkap Anak Krakatau Kini Tumbuh Kembali Setelah Runtuh Pada 2018

×

BRIN Ungkap Anak Krakatau Kini Tumbuh Kembali Setelah Runtuh Pada 2018

Sebarkan artikel ini
Gak Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau. (Foto / Istimewa)

Koma.id – Gunung Anak Krakatau yang sempat runtuh pada 2018 kini kembali mengalami pertumbuhan melalui aktivitas erupsi yang berlangsung secara bertahap.

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dini Nurfiani, mengatakan proses pertumbuhan kembali tersebut merupakan bagian dari siklus perkembangan Gunung Anak Krakatau.

Silakan gulirkan ke bawah

Temuan itu berdasarkan penelitian kolaboratif BRIN bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Institut Teknologi Bandung (ITB), University of Birmingham, Penn State University, British Geological Survey, dan University of Oxford.

“Sejarah erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api ini berkembang melalui siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali. Setelah kolaps pada 2018, morfologi dan gaya erupsi berubah secara drastis, lalu diikuti fase pertumbuhan kembali melalui erupsi dan pembentukan lava baru,” kata Dini dalam keterangan tertulisnya, dikutip Jumat (25/9/2026).

Dini menjelaskan, Anak Krakatau mengalami perubahan besar pada 22 Desember 2018. Saat itu, sektor barat daya gunung runtuh ke laut dengan volume material sekitar 0,116 kilometer kubik.

Keruntuhan tersebut menghilangkan sebagian besar tubuh gunung yang berada di atas permukaan laut. Ketinggian puncak Anak Krakatau yang sebelumnya sekitar 330 meter turun menjadi sekitar 120 meter.

Runtuhnya sebagian tubuh gunung juga memicu tsunami di Selat Sunda yang berdampak pada sejumlah wilayah pesisir Banten dan Lampung.

Menurut Dini, keruntuhan pada 2018 tidak hanya mengubah bentuk fisik Anak Krakatau, tetapi juga memengaruhi sistem erupsinya.

Hilangnya sebagian besar tubuh gunung secara tiba-tiba mengurangi tekanan pada saluran magma. Pada saat yang sama, air laut masuk ke kawah yang terbuka akibat keruntuhan.

Kondisi tersebut menyebabkan perubahan gaya erupsi. Aktivitas yang sebelumnya didominasi erupsi Strombolian kemudian berubah menjadi aktivitas Surtseyan yang dipengaruhi interaksi magma dengan air laut.

Perubahan morfologi Anak Krakatau terlihat dari perbandingan kondisi sebelum dan setelah keruntuhan. Kerucut yang sebelumnya relatif tinggi berubah menjadi bentuk yang lebih rendah dan terbuka.

Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung permanen.

Sejak 2019, Anak Krakatau memasuki fase rekonstruksi dan pertumbuhan kembali. Aktivitas erupsi secara bertahap kembali membangun tubuh gunung melalui pembentukan material vulkanik, lava fountain, dan aliran lava.

Material hasil erupsi kemudian menumpuk di dalam kawah pascaruntuhan dan membentuk kerucut baru.

Salah satu tanda pertumbuhan kembali terlihat dari pembentukan lava pada 2020 yang kemudian menumpuk di atas material hasil aktivitas setelah keruntuhan.

“Setelah kolaps, Anak Krakatau memasuki fase pembangunan kembali. Aktivitas berkembang dari erupsi yang masih dipengaruhi interaksi air menuju Strombolian, lava fountain, dan aliran lava, yang secara bertahap membangun kerucut baru di dalam kawah pascakolaps,” ujar Dini.

Tumbuh Sejak 1927

Dini menjelaskan, pertumbuhan Anak Krakatau sebenarnya merupakan bagian dari siklus panjang gunung api tersebut.

Anak Krakatau mulai muncul dari dasar laut pada 1927, setelah sistem Gunung Krakatau mengalami keruntuhan besar akibat erupsi 1883.

Pada fase awal pertumbuhannya, pusat erupsi Anak Krakatau masih berada di bawah atau sangat dekat dengan permukaan laut. Interaksi magma panas dengan air laut menghasilkan erupsi Surtseyan berupa ledakan uap, abu, dan material vulkanik.

Material tersebut terus terakumulasi hingga akhirnya Anak Krakatau muncul secara permanen di atas permukaan laut pada Agustus 1930.

Pertumbuhan berlanjut selama beberapa dekade. Pada periode 1930 hingga 1959, aktivitas Anak Krakatau didominasi erupsi freatomagmatik akibat interaksi magma dengan air.

Memasuki periode 1959 hingga 2018, aktivitas erupsi berubah menjadi lebih dominan Strombolian-Vulcanian dan efusif. Letusan menghasilkan material pijar, bom vulkanik, abu, serta aliran lava.

Akumulasi material vulkanik selama puluhan tahun kemudian membuat kerucut Anak Krakatau tumbuh hingga mencapai ketinggian sekitar 330 meter sebelum akhirnya runtuh pada 2018.

Pertumbuhan Tidak Simetris

Penelitian tersebut juga menunjukkan pertumbuhan Anak Krakatau tidak berlangsung secara simetris.

Gunung tersebut berdiri di tepi kaldera bawah laut dengan tingkat kemiringan berbeda di setiap sisinya. Sektor barat daya berkembang di atas lereng kaldera yang lebih curam, sedangkan bagian timur laut bertumpu pada dasar laut yang relatif lebih dangkal.

Perbedaan kondisi dasar tersebut membuat kedua sektor memiliki karakter kestabilan yang berbeda.

Material penyusun tubuh Anak Krakatau juga memiliki karakteristik berbeda. Pada fase awal pertumbuhan, interaksi magma dengan air laut menghasilkan endapan tuf yang relatif ringan dan berpori.

Setelah sekitar 1960, ketika aktivitas lebih didominasi erupsi Strombolian-Vulcanian, lava yang lebih padat mulai menumpuk di atas endapan tuf tersebut.

Penumpukan material lava yang lebih berat di atas material yang lebih ringan, ditambah posisi sektor barat daya di atas lereng kaldera yang curam, menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan ketidakstabilan lereng Anak Krakatau.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Bulletin of Volcanology juga mencatat bahwa pertumbuhan kembali Anak Krakatau setelah keruntuhan 2018 berlangsung dengan cepat dan mengikuti pola perkembangan yang memiliki kemiripan dengan siklus pertumbuhannya sebelum keruntuhan.

Dini menegaskan, perjalanan Anak Krakatau menunjukkan bahwa perilaku gunung api dapat berubah mengikuti perkembangan tubuh gunung, sistem magma, material penyusun, gaya erupsi, serta kondisi lingkungan di sekitarnya.

“Catatan erupsi Anak Krakatau memperlihatkan bahwa perilaku gunung api tidak selalu tetap, tetapi dapat berubah mengikuti perkembangan tubuh gunung, sistem magma, dan kondisi lingkungannya,” tutur Dini.

Dengan demikian, proses yang terjadi pada Anak Krakatau saat ini bukan sekadar aktivitas erupsi, tetapi bagian dari siklus panjang pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali tubuh gunung api tersebut.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.